Oleh. Freni Lutrun*)
Spei Yan Bidana, adalah salah satu dari politisi kawakan di tanah Papua yang sekarang terbilang populis di mata rakyat hari ini. Mengapa begitu? ada beberapa pertimbangan dan catatan penting kami yang coba diulas dalam tulisan singkat ini tentang Papua dan tantangannya di era persaingan bebas dan seperti apa pergerakan Spei Yan Bidana sebagai kepala daerah maupun sebagai elit partai yang memainkan peran ganda dalam pemerintahan dan politik untuk membangun Papua ditengah kondisi bangsa Indonesia hari ini.
Pertama; Spei Bidana, demikin panggilan singkatnya Ia lahir dari seorang pamongpraja tulen yang diproses dari bawah hingga matang dalam strategi kebijakan pembangunan daerah. Proses ini mengantarnya cukup lama dan membentuk pikiran kritisnya tentang Papua dalam bingkai NKRI dan langkah-langkah penting yang harus dilakukan pemerintah dalam menjawab berbagai keadaan sosial dan ekonomi dan politik di tanah Papua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kematangan sebagai pamongpraja ini mengantarkannya dalam sebuah visi yang lahir berbeda dengan konsep pemimpin lain (sebelum dia menjabat kepala daerah red). Point ini memang tidak muda untuk dilalui bagi seseorang dalam mengikuti drama atau dinamika Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam mengelolah sejumlah instrumen pemerintahan. Jabatan strategis yang barangkali tidak bisa diragukan adalah berada pada badan perencanaan pembangunan daerah, salah satu OPD yang memiliki kans besar dalam menentukan skala prioritas dan arah kebijakan politik sebuah pemerintahan. Ini dasar pertama yang dimiliki Spei Bidana yang kuat bagi seorang Pamongpraja. Apresiasi dan dukungan terhadapnya terus mengalir bahkan dirinya di dorong untuk harus berani memilih berbeda dalam sebuah percaturan politik dalam pemerintahan.

Point kedua: Dasar dan pengalaman yang matang dalam pemerintahan itu kemudian melahirkan visi yang baru lahir darinya dalam sebuah percaturan politik. Ia memiliki pandangan yang berbeda dengan politisi lain, dan kemudian visi itu harus diuji dalam perhelatan politik di Pemilihan Kepala Daerah. Konsepnya kemudian diterima rakyat dalam pilkada masa itu. Satu langkah politik telah sukses dilakukan dalam ujian berat politik pada masa periode pertama, dan tentu saja, ini belum selesai, karena ruang politik tentu saja berbeda dengan bagaimana mengukur visi kepemimpinan dalam kinerja Birokrasi yang menjalan arah dan kebijakan politiknya.
Waktu terus berjalan, Spei membongkar dan mengutak-atik secara hati-hati sumber daya aparatur Pegunungan Bintang. Ini tidak lain agar sistem pemerintahan memahami arah politik, sekaligus OPD mampu merumuskan program yang menyentuh rakyat dalam mencapai visinya. Pada masa pemerintahan Spei Bidana periode pertama itu sebenarnya kita tidak bisa mengukur secara totalitas sebuah kinerja, karena masa itu terjadi penyesuaian periodisasi seluruh kepala daerah, sehingga Spei hanya bisa menjalankan separuh waktu pemerintahan sekitar tiga tahun saja. Meski demikian, Ia menempatkan Prioritas program yang unggul seperti infrastruktur digerakan, Sumber Daya Manusia (SDM) Pegunungan Bintang dengan menghadirkan Universitas Okmin Papua dan memprioritaskan beasiswa sejumlah anak-anak daerahnya. Pemerintahan Spei terus berjalan dalam sebuah masa transisi yang kritis karena masalah Covid 19 dan anggaran yang sangat terbatas waktu itu. Hal lain adalah pemerintahan awal saat itu meninggalkan banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Point Ketiga: Spei Yan Bidana kemudian dipercaya Megawati Soekarno Puteri untuk mengendalikan PDIP di level provinsi, sebuah tanggungjawab besar sekaligus membuka “medan Perang politik yang makin luas”. Bukankah ini tanggungjawab politik yang amat berat dan harus ditata dalam kepentingan Politik Partai dan strategi menjalankan roda pemerintahan?. Oh tentu saja sangat berat. Spei Bidana memang tidak bisa dipandang sebelah mata, ternyata ditangannya, arah politik Papua di wilayah Papua tengah maupun Papua Pegunungan mampu menghadirkan kepemimpinan di level Gubernur. Memang, semua elemen memiliki peran besar dalam proses masa itu, tetapi bukankah sutradaranya (Partai Politik) harus lebih awal memahami arah dan strategis sebuah kontestasi? Disinilah nama Spei Yan Bidana menjadi pembicaraan serius di kalangan elit partai dan para pejabat Papua. Bahwasanya, dia ternyata tidak bisa dilihat sebatas posisi Bupati, melainkan level pertarungannya melampaui ruang dan waktu.
Point keempat: Konsistensi Politik Spei Bidana mengikuti arah perjuangan sang Proklamator Sorkarno. Memang, terlalu cepat dan berlebihan kalau penulis menyematkan status itu kepada Spei Bidana. Tetapi, bukanlah ruang politik di level daerah yang berhasil dilakukan merupakan posisi keberuntungan dan kesuksesan yang sukses ia lakukan? Disinilah perbedaan sederhananya. Apa yang dimaksudkan dalam Spirit sang Proklamator Soekarno kepada Spei Bidana adalah tentang keberpihakan terhadap rakyat kecil.
Belum hilang dari ingatan kita tentang acara Wisudah Universitas Okmin Papua di Pegunungan Bintang beberapa waktu lalu. Dalam momen wisudah itu, ada aura yang terpancar bersinar dalam pribadi Spei Bidana tentang sebuah misi besar direstui sang pencipta. Orang-orang merasa sesuatu yang berbeda ketika momen wisudah yang biasanya terjadi di kota-kota besar, ternyata hal itu bisa terjadi di Pegunungan Bintang. Canda dan tawa, tangis air mata mama-mama Papua ketika melihat anak mereka lulus menjadi seorang sarjana di Universitas Okmin yang lahir dari rahim Pegunungan Bintang Papua. Ini adalah sebuah peristiwa besar yang menegaskan tentang sebuah tujuan itu telah tercapai dengan baik dalam Bidang Sumber Daya Manusia (SDM). Di rahim kampus ini akan melahirkan begitu banyak anak-anak Papua yang nantinya menjadi garda depan dalam membangun tanah Papua, bukan saja di Pegunungan Bintang. Ini adalah sebuah karya nyata yang patut disyukuri, tetapi lebih dari itu akan menjadi pertimbangan strategis dalam perdebatan politik di tanah Papua kedepannya.
Point Kelima: Basis politik bersama rakyat. Tidak saja soal SDM yang berhasil dibuat oleh tangan dingin Spei Bidana, tetapi salah satu program brilian yang kemudian sedang berjalan adalah tentang rancangan Perda tentang Pembangunan berkelanjutan. Perda ini, penulis melihat beberapa inti pesan yang tersirat seperti pembentukan Komunitas Ap Iwol akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat kuat. Kekuatan ini bukan soal politik, kecuali menempatkan rakyat dengan komunitas adat dan budayanya menjadi sebuah standar baku dalam perencanaan pembangunan berlanjut. Pikiran ini barangkali penulis berani katakan mungkin pertama kali di gagas kepala daerah di tanah Papua. tetapi, ada hal yang menarik dari pembentukan Komunitas ini, adalah kehadiran Komunitas Ap Iwol hadir bersamaan dengan tingginya berbagai gejolak di Papua, tentang banyak program strategis nasional yang belum berjalan baik dan perlu dipertimbangkan bersama rakyat sebagai pemilik tanah Papua. Mungkin saja ini yang dimaksudkan Bupati Spei Yan Bidana soal Pemerintahan yang kuat dengan bagaimana melestarikan adat dan budaya, melibatkan rakyat dalam pembangunan dan menjaga Papua dalam era pergaulan dunia Internasional. Inilah yang dimaksudkan dari sang proklamator Pegunungan Bintang di Provinsi Papua Pegunungan. (Tulisan berlanjut)








