GORONTALO, SinergiSatu.com — Langit di sejumlah wilayah Provinsi Gorontalo dalam beberapa hari terakhir tampak berkabut dan diselimuti asap. Kondisi ini tidak hanya terlihat di Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango, tetapi juga dilaporkan hingga Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato. Kabut asap bahkan terlihat menyelimuti langit sejak pagi hingga sore hari, menimbulkan pertanyaan masyarakat mengenai sumber asap dan dampaknya terhadap lingkungan serta kesehatan.
Dalam pemberitaan RRI Gorontalo, seorang warga bernama Ismawati mengaku mendengar informasi bahwa asap yang menyelimuti wilayah tersebut berasal dari kebakaran hutan di Kalimantan. Namun, ia juga menduga kondisi itu berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah titik di Gorontalo.
Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Gorontalo yang dikonfirmasi RRI membenarkan bahwa kondisi atmosfer dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh asap dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan BMKG, masih terdapat titik panas yang berpotensi menghasilkan asap dan memengaruhi jarak pandang serta kondisi langit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi ini perlu mendapat perhatian karena Gorontalo masih berada dalam periode musim kemarau. Suhu maksimum dilaporkan sempat mencapai 37,2 derajat Celsius, sehingga masyarakat perlu mewaspadai dampak cuaca panas sekaligus kemungkinan paparan asap.
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Gorontalo, indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) meningkat dari 19 menjadi 36. Meski masih berada dalam kategori baik, angka tersebut tidak serta-merta menggambarkan kondisi udara di seluruh wilayah Gorontalo. Pemantauan berkala tetap diperlukan, terutama di sekitar lokasi kebakaran.
Di Kabupaten Bone Bolango, tim gabungan dilaporkan melakukan pemadaman kebakaran lahan menggunakan peralatan pendukung, termasuk alkon dan terpal penampungan air. Upaya ini dilakukan untuk mengendalikan api dan mencegah kebakaran merembet ke permukiman warga.
Data yang dihimpun dalam informasi terkait mencatat 84 kejadian karhutla di Provinsi Gorontalo hingga September 2026, dengan 36 kejadian di antaranya berada di Kabupaten Bone Bolango. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebakaran lahan masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius, terlebih ketika kondisi cuaca kering berpotensi memperluas penyebaran api.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan karena dapat memicu kebakaran yang lebih besar dan menimbulkan dampak terhadap lingkungan serta aktivitas warga. Pembakaran sampah secara sembarangan juga perlu dihindari selama musim kemarau.
Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak ketika cuaca sangat terik atau asap semakin pekat. Jika mengalami batuk berkepanjangan, iritasi mata, sesak napas, atau gejala gangguan pernapasan lainnya, warga sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kabut asap yang terlihat sejak pagi hingga sore di sejumlah wilayah, termasuk Boalemo dan Pohuwato, menjadi pengingat bahwa karhutla bukan semata-mata persoalan api di kawasan hutan atau lahan. Dampaknya dapat meluas ke permukiman, mengganggu aktivitas masyarakat, dan memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas udara. Karena itu, penanganan tidak cukup berhenti pada pemadaman. Pengawasan titik panas, penyampaian informasi yang akurat, serta pencegahan pembakaran perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kebakaran tidak terus berulang selama musim kemarau. (team)










