WAMENA, Sinergisatu.com – Bupati Jayawijaya, Atenius Murip, dan Wakil Bupati Ronny Elopere, mendapat kritik pedas dari Witen Kolago, salah satu putera asli Papua Pegunungan. Ia mengkritik soal janji politik tentang pentingnya pelestarian budaya yang perlu di dokumentasikan salah satunya melalui penerbitan Kamus.
Melalui salah satu video yang diterima redaksi sinergisatu.com di Jakarta pada senin (21/09), dirinya menegaskan soal tidak ada kepedulian pemimpin di daerahnya tentang kosep menjaga Papua dalam tatanan budaya.
“Saya Witen Kolago, ingin kritik Pemda Jayawijaya dalam hal bahasa daerah. Ini buku ini hanya satu logat dan belum mewakili lainnya. Ini tidak bisa, ini kita berdosa”, kata Witen saat dirinya menunjukan salah satu buku dalam video tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, penting sekali Bupati Atenius Murip dan Wakilnya membuktikan dulu bagaimana bisa selamatkan budaya ataukah tidak.
“Saya sudah kasih tau kaka Bupati dan Wakil bahwa kita memulai dengan Pembuatan Kamus dulu. Jangan pakai buku ini, buku ini baru di daun, belum akar dan batang. Ada kamus dulu baru ada patokan untuk bahasa daerah itu jelas. Kalau buku yang ada ini, tidak punya rumah dan tidak punya vondasi yang baik. Ini saya sudah tawarkan tetapi susah, susah, susah sekali”, ungkap Witen dalam video tersebut.
Untuk diketahui, Tabena Witen Kolago ini adalah salah satu putera Papua Pegunungan yang aktif dalam menerbitkan karya-karya intelektualnya, bahkan dirinya telah mendapat pengakuan dari elit Papua, seperti Kakanwil Hukum dan HAM, Anthonius Mathius Ayorbaba.
Ia dikenal seorang aktivis pelestari bahasa daerah, dan mendedikasikan hidupnya selama lebih dari 16 tahun untuk mendokumentasikan bahasa ibu di Papua guna mencegah kepunahan warisan budaya tersebut. Ia menyusun Matematika Kontekstual sebagai materi pembelajaran matematika dalam bahasa daerah, seperti Matematika Bahasa Lani, Matematika Bahasa Walak, dan Matematika Bahasa Hubula. (Fren Lutrun)






