Sinergisatu.com, BANJAR, KALIMANTAN SELATAN – Berawal dari bantuan modal usaha dan kemauan untuk belajar, keluarga di Desa Handil Bujur RT 2, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, kini mampu mengembangkan usaha peternakan dengan memanfaatkan kekayaan alam sekitar.
Kisah inspiratif itu datang dari Sumiati dan suaminya Irbabullah. Dari kandang sederhana ber-atap daun rumbia, tiang kayu hutan dan bambu, mereka kini mampu memanen 25-35 butir telur ayam petelur setiap hari.
Sebelumnya, keluarga ini hanya bergantung pada penghasilan Irbabullah sebagai pencari ikan. Perubahan bermula saat Sumiati bergabung sebagai peserta Program _Family Strengthening (FS)_ YBM BRILiaN Regional Office Banjarmasin. Melalui program tersebut, mereka mendapat pendampingan keagamaan, kesehatan, sosial, pendidikan, serta modal usaha melalui _Mustahik Income Generation Program (MIGP)_.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan modal itu, mereka membeli 35 ekor ayam petelur. Hasilnya kini tak hanya membantu ekonomi keluarga, tapi juga menjadi sumber telur segar bagi warga sekitar. Saking tingginya permintaan, warga harus memesan hingga 3 hari sebelumnya.
“Alhamdulillah, hasil penjualan telur cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Sumiati.
Inspirasi serupa juga ditunjukkan Rabiatul Adawiyah dan Baitul Rahman. Mereka mengembangkan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) dengan pakan racikan dari tanaman lokal seperti eceng gondok, kangkung liar, daun pepaya, daun singkong, batang pisang, dan azolla untuk menekan biaya pakan.
Fasilitator Program FS YBM BRILiaN,Arif Riduan,S.sos.I., mengatakan keberhasilan ini merupakan hasil pendampingan selama satu tahun.
“Peserta tidak hanya didorong memiliki usaha, tapi juga dibina agar mampu mengelola potensi yang dimiliki dan membangun kemandirian keluarga,” jelasnya.
Di Desa Handil Bujur, terdapat 20 keluarga peserta program yang tergabung dalam kelompok Sentra Berkah Dunia Akhirat. Usahanya beragam, mulai dari ternak ayam petelur, ayam KUB, bebek, warung sembako, es krim putar, hingga jasa jahit.
Selain usaha, peserta juga diajarkan mengelola pendapatan dengan menabung dan berinfak kelompok.
Dari kandang sederhana di Handil Bujur, mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, potensi alam akan bermakna jika diolah dengan ketekunan, dan bantuan akan berdampak panjang jika ditumbuhkan menjadi kemandirian.
(AR)










