Polda Kalsel Kembangkan Cairan Pemadam Karhutla, Bara Api di Lahan Gambut Lebih Cepat Didinginkan

Sabtu, 5 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sinergisatu.com, Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) terus mengembangkan cara penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di lahan gambut. Salah satunya melalui pengembangan cairan pemadam berbasis surfaktan yang dipadukan dengan sistem pipa undercooling untuk memadamkan bara api di dalam tanah.

Pengembangan tersebut kembali diterapkan saat Kapolda Kalsel Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H. bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P., Tenaga Ahli BNPB Brigjen TNI (Purn.) Herman Hidayat, serta unsur Forkopimda meninjau penanganan karhutla di Pos Pantau Pengayuan, Kota Banjarbaru, Jumat (4/9/2026).

Sebelumnya, dalam rapat konsolidasi, masing-masing posko penanganan karhutla memaparkan perkembangan di lapangan, termasuk hasil penanganan dan kendala yang masih dihadapi. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan melihat langsung penerapan cairan pemadam di lahan gambut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol. Nur Khamid, S.H., S.I.K., M.M. mengatakan, dalam keterangannya Kapolda Kalsel menyampaikan, bahwa penggunaan cairan tersebut dapat membantu menghemat kebutuhan air dalam pemadaman karhutla.

“Dari hasil ini kita bisa melihat bahwa air yang digunakan untuk pemadaman khususnya di lahan gambut ini bisa efisien, dan cairan yang kita gunakan ini juga lebih efisien. Ini kita kembangkan,” ujar Kapolda.

Menurutnya, produksi cairan pemadam mulai ditingkatkan dengan melibatkan personel Brimob. Produksi dilakukan di Mako Brimob untuk memenuhi kebutuhan penanganan di lapangan.

Pengembangan formula tersebut bermula dari cairan pemadam lahan gambut yang sebelumnya diperoleh Polda Kalsel melalui bantuan GAPKI dari Jepang. Kapolda kemudian meminta Bidlabfor Polda Kalsel mengurai kandungan cairan tersebut untuk mengetahui bahan utama yang digunakan.

Dari hasil penguraian itu, Labfor kemudian mengembangkan formula yang disesuaikan dengan kondisi lahan gambut di Kalimantan Selatan.

Kapolda Kalsel menjelaskan bahwa formula yang dikembangkan Labfor tersebut terus disesuaikan agar dapat digunakan secara efektif dalam penanganan karhutla di Kalsel.

Beliau menambahkan, produksi cairan akan terus ditingkatkan seiring dengan ketersediaan bahan baku. Polda Kalsel juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mendukung pengiriman bahan baku dari luar Kalimantan Selatan.

“Mulai per hari ini kita sudah mengembangkan dalam jumlah yang cukup banyak. Kita sudah produksi, kita gunakan lapangan yang besar di Brimob,” ujar Kapolda.

Polda Kalsel bersama Pemprov Kalsel dan unsur terkait akan terus melakukan penanganan di titik-titik karhutla, sekaligus mengembangkan metode pemadaman yang lebih efektif dan efisien untuk kondisi lahan gambut di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, AKP Amel dari Bidlabfor Polda Kalsel menjelaskan, dari satu ton bahan baku utama dapat dihasilkan sekitar 4.700 liter konsentrat. Konsentrat tersebut digunakan dengan perbandingan 1 liter konsentrat dicampur dengan 100 liter air.

Dengan jumlah tersebut, 4.700 liter konsentrat dapat digunakan untuk sekitar 470.000 liter air.

“Prinsip kerjanya adalah konsentrat kami itu nantinya kalau disemprotkan itu mengeluarkan busa. Nah, konsentrat itu juga mengandung surfaktan, yang di mana surfaktan ini bisa memutus suplai rantai oksigen sehingga bara api itu di dalam bisa langsung dingin dan langsung padam,” jelas AKP Amel.

Cairan tersebut diterapkan dengan sistem pemadaman dari permukaan dan bawah tanah. Untuk bara yang berada di dalam gambut, cairan dapat dialirkan melalui sistem pipa undercooling agar menjangkau bagian tanah yang masih menyimpan panas.

Dari sisi bahan, Bidlabfor Polda Kalsel menyebut surfaktan yang digunakan ramah lingkungan dan diharapkan tidak merusak mikroorganisme maupun vegetasi di lahan yang ditangani.

Penerapan di lapangan juga dipantau menggunakan drone thermal untuk mengetahui titik panas yang masih berada di bawah permukaan.

Dalam penerapan sebelumnya di lokasi yang sama, cairan pemadam telah disemprotkan pada lahan gambut. Dua hari setelah penyemprotan, menurut Labfor, tidak terlihat kembali asap dari titik yang telah ditangani.

Wamenko Pangan Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P. mengapresiasi langkah Polda Kalsel dalam mengembangkan formula tersebut. Menurutnya, ada dua hal penting dalam penanganan karhutla, yakni mengetahui lokasi inti api dan menemukan cara yang tepat untuk memadamkannya.

“Kita tentu sangat mengapresiasi dua teknologi utama. Pertama, mencari inti api. Jadi, setiap kebakaran itu yang paling utama mendapatkan di mana inti api itu berada. Kedua, bagaimana menaklukkan inti api,” ujar Hanif.

Ia menyebut keterbatasan air menjadi salah satu persoalan dalam penanganan karhutla. Karena itu, penggunaan cairan yang dapat membantu membuat pemadaman lebih efisien dinilai penting untuk terus dikembangkan.

Wamenko Pangan juga mendorong agar formula tersebut dapat dikembangkan dalam skala lebih besar dengan dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Ia juga meminta agar inovasi yang dikembangkan tim Polda Kalsel mendapat perlindungan hak kekayaan intelektual.

“Dalam rapat tadi, kita semua sepakat semua tim lapangan akan mencoba mendetilkan operasional yang telah dilakukan Pak Kapolda ini, kemudian mengimplementasikan pada tahap berikutnya,” katanya.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Momentum HUT ke-25, GEPAK Kalsel Usung Gagasan Besar untuk Indonesia Menuju Deklarasi 2027
Pastikan Distribusi Aman, Polsek Amuntai Selatan Patroli dan Monitoring SPBU 64.714.11 Panyiuran
Polda Kalsel Kerahkan Ratusan Personel Amankan Aksi Demo di DPRD Kalsel
Unjuk Rasa di DPRD Kalsel Berakhir Kondusif, Polri dan Mahasiswa Bersihkan Sampah Bersama
Progres Pembangunan Jembatan Garuda di Teluk Masjid, Kini Masuki Tahap Pembuatan Sayap Jembatan
Dukung Swasembada Pangan 2026, Polsek Amuntai Utara Panen Jagung 9 Ton di Desa Pinangkara
Kisah Inspiratif dari Handil Bujur: Olah Bantuan Jadi Usaha Mandiri Berbasis Potensi Alam
Memaksimalkan Bantuan & Potensi Alam, Warga Handil Bujur Bangun Kemandirian dari Kandang Sederhana

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:57

Momentum HUT ke-25, GEPAK Kalsel Usung Gagasan Besar untuk Indonesia Menuju Deklarasi 2027

Jumat, 23 Oktober 2026 - 01:58

Pastikan Distribusi Aman, Polsek Amuntai Selatan Patroli dan Monitoring SPBU 64.714.11 Panyiuran

Jumat, 23 Oktober 2026 - 00:37

Polda Kalsel Kerahkan Ratusan Personel Amankan Aksi Demo di DPRD Kalsel

Jumat, 23 Oktober 2026 - 00:33

Unjuk Rasa di DPRD Kalsel Berakhir Kondusif, Polri dan Mahasiswa Bersihkan Sampah Bersama

Kamis, 22 Oktober 2026 - 05:44

Progres Pembangunan Jembatan Garuda di Teluk Masjid, Kini Masuki Tahap Pembuatan Sayap Jembatan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:22

Kisah Inspiratif dari Handil Bujur: Olah Bantuan Jadi Usaha Mandiri Berbasis Potensi Alam

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:17

Memaksimalkan Bantuan & Potensi Alam, Warga Handil Bujur Bangun Kemandirian dari Kandang Sederhana

Rabu, 21 Oktober 2026 - 01:17

Kapolda Kalsel Pimpin Penanganan Karhutla Gunakan Metode Campuran Surfaktan Pyrox dan Water Bombing

Berita Terbaru