Sinergisatu.com, GORONTALO – Pemanfaatan potensi pangan lokal menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Polohungo, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo, dalam memperkuat pendidikan berbasis keterampilan. Melalui program vokasi tata boga, lembaga pendidikan nonformal ini mengolah tomat dan pisang menjadi produk pangan bernilai ekonomi, yakni Torakur dan Nugget Pisang.
Kedua produk tersebut diperkenalkan dalam kegiatan Diseminasi Praktik Baik dan Showcasing Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dan Kecerdasan Artifisial/Komputasi (KKA) yang digelar di Aula Kantor Desa Polohungo, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana proses pembelajaran di satuan pendidikan nonformal dapat dikembangkan melalui praktik keterampilan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, warga belajar juga didorong memiliki kemampuan mengolah bahan baku lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Torakur, singkatan dari Tomat Rasa Kurma, merupakan olahan tomat yang diproses menjadi manisan dengan cita rasa manis menyerupai kurma tanpa menggunakan pengawet buatan. Sementara Nugget Pisang dikembangkan sebagai camilan berbahan dasar pisang lokal dengan baluran renyah dan beragam varian rasa.
Inovasi tersebut mendapat perhatian dari perwakilan Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Wisnu Laksono, S.H., M.M., yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Menurut Wisnu, pengembangan produk olahan pangan melalui pendidikan nonformal merupakan bentuk nyata penerapan pembelajaran berbasis keterampilan hidup (life skills). Ia menilai, kemampuan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai jual dapat menjadi bekal bagi warga belajar untuk membangun kemandirian.
“PKBM Polohungo telah membuktikan bahwa pendidikan nonformal mampu melahirkan produk inovatif yang memiliki nilai jual tinggi,” kata Wisnu.
Kepala PKBM Polohungo, Karim J. Maku, S.Pd., menjelaskan bahwa pengembangan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya lembaganya menghadirkan kurikulum vokasi yang memanfaatkan potensi pangan lokal. Penetapan PKBM Polohungo sebagai Sekolah Model turut mendorong pengembangan pembelajaran yang mengombinasikan pendekatan Pembelajaran Mendalam dengan keterampilan praktis.
Karim mengatakan, program tata boga tidak hanya mengajarkan warga belajar tentang cara mengolah bahan makanan. Mereka juga diperkenalkan dengan tahapan pemilihan bahan baku, formulasi pengolahan yang higienis, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran melalui platform digital.
Menurutnya, tomat dan pisang merupakan komoditas yang melimpah di Kabupaten Gorontalo. Potensi tersebut perlu dikembangkan agar tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kami merancang program tata boga ini agar warga belajar memiliki kesiapan kerja dan keberanian berwirausaha,” ujar Karim.
Diseminasi tersebut turut dihadiri berbagai unsur pemangku kepentingan pendidikan, di antaranya Camat Tolangohula, Kepala Desa Polohungo, Bina Jaya dan Sukamakmur Utara, Koordinator Wilayah Tolangohula, Ketua Ikatan Penilik Indonesia Kabupaten Gorontalo, para penilik kesetaraan, pengelola SPNF SKB, delapan PKBM mitra, serta kepala sekolah tingkat SD dan SMP.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran pengalaman dan praktik baik dalam penyelenggaraan pendidikan nonformal, khususnya pengembangan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan dan potensi lokal.
Ke depan, PKBM Polohungo berkomitmen membagikan modul pembelajaran tata boga, standar operasional prosedur pembuatan Torakur dan Nugget Pisang, serta strategi pendampingan warga belajar kepada pengelola PKBM lainnya di Gorontalo.
Langkah ini diharapkan dapat membuka ruang bagi satuan pendidikan nonformal lainnya untuk mengembangkan model pembelajaran sesuai dengan potensi daerah masing-masing.
Pengembangan Torakur dan Nugget Pisang memperlihatkan bahwa ruang pendidikan tidak harus berhenti pada kegiatan belajar di dalam kelas. Dengan pendekatan yang tepat, potensi yang tersedia di lingkungan masyarakat dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus pintu masuk bagi pengembangan keterampilan, kewirausahaan, dan kemandirian ekonomi.
@156036329660657










