Sinergisatu.com, HULU SUNGAI SELATAN – Sejarah perjuangan Ibnu Hadjar yang selama ini hanya dikenal lewat buku pelajaran, kini diungkap dari sisi yang berbeda dan lebih manusiawi oleh H. Junaidi dalam wawancara eksklusifnya di lintasindonesianews.com (5/10/2026).
H. Junaidi menceritakan kedekatan pribadi antara ayahnya dengan sosok kontroversial sekaligus legendaris asal Kalimantan Selatan tersebut, Haderi bin Umar alias Ibnu Hadjar, kelahiran Ambutun, Telaga Langsat, 19 April 1920.
“Orang hanya tahu Ibnu Hadjar itu pemberontak DI/TII. Padahal di mata ayah saya, beliau adalah sosok yang sangat dekat, pemberani, dan punya alasan kuat atas perjuangannya,” ungkap H. Junaidi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, sang ayah sering berkisah tentang masa-masa bersama Ibnu Hadjar sebelum peristiwa Oktober 1950, saat Ibnu Hadjar dengan pasukannya Kesatuan Rakyat Yang Tertindas melakukan perlawanan di Kalimantan Selatan.
Ibnu Hadjar yang merupakan putra dari pasangan Umar dan Siti Hadijah (putri kepala suku Dayak di Tamiang Layang) dikenal sebagai sosok pekerja keras, petani dan pencari madu sebelum menjadi Letnan Dua TNI.
Kisah yang diungkap H. Junaidi ini menjadi pelengkap sejarah yang jarang diceritakan ke publik – tentang sisi humanis dan hubungan kekeluargaan para pejuang di pedalaman Kalimantan.
“Ini jejak perjuangan yang harus diluruskan, bukan untuk mengagungkan pemberontakan, tapi untuk memahami konteks zamannya,” tutup H. Junaidi.
Sosok Ibnu Hadjar sendiri wafat di Jakarta pada 22 Maret 1965 dalam usia 44 tahun.






