banner 728x250

Uskup Agung Jakarta Sebut, Bahayanya Tumbang,Jika Tak Dengar Kritik

Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo,Uskup Agung Jakarta (Kompas)
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA,SINERGISATU.COM-Uskup Agung Jakarta Kardinal Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo,Suharyo mengatakan, penyampaian sikap politik terhadap penguasa sejatinya telah ada sejak zaman kenabian. Hal tersebut menanggapi terkait sejumlah sivitas akademika yang mengkritik pemerintah Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjelang Pemilu 14 Frebuari 2024.

“Dalam perspektif iman Kristiani, dalam sejarah itu selalu ada kerajaan. Dan kerajaan itu sama dengan kekuasaan. Kita semua tahu kekuasaan itu berbahaya kalau tidak dijalankan dengan baik,” kata Uskup kelahiran Sedayu,Yogyakarta itu, usai menyampaikan seruan terkait Pemilu 2024 di Graha Oikoumene, Salemba, Jakarta Pusat, Senin (5/2/2024).

banner 325x300

“Maka ketika ada institusi kerajaan, pada waktu itu raja-raja tidak bagus, munculah nabi-nabi. Itulah yang menyerukan kebenaran, keadilan,” imbuhnya.

Mantan Uskup Agung Semarang ini, menilai bahwa setiap zaman berjalan seperti itu, sehingga, jika para akademisi menyerukan kritik terkait moral, itu tanggung jawab mereka dan ditujukan kepada institusi yang memegang kekuasaan.

“Dinamika seperti itu dalam sejarah selalu ada. Semoga seruan-seruan seperti itu didengarkan. Kalau tidak didengarkan dalam sejarah juga jelas, ketika kekuasaan tidak mendengarkan kritik-kritik bahanya adalah ‘tumbang’. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di mana pun akan terjadi,” bebernya.

Oleh karena itu menurut Kardinal Indonesia yang ke-3 itu bahwa, “kekuasaan dan kritik merupakan dua hal yang mesti berjalan bersama-sama”

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Marsudi Syuhud dalam kesempatan yang sama, mengatakan kritik merupakan hal yang biasa dan merupakan vitamin yang menyehatkan demokrasi.

“Kritik itu biasa, karena kritik itu adalah vitamin. Kalau vitaminnya pas, itu akan menyehatkan bangsa ini, akan menyehatkan demokrasi ini,” kata Marsudi.

Marsudi Syuhud juga menyebut, kritik yang disampaikan sejumlah sivitas akademika bukan untuk merobohkan melainkan membangun Indonesia yang lebih baik.

“Atas kritik yang banyak, kritik itu membangun, kritik itu bukan merobohkan, tapi untuk memperkuat, untuk membangun,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, sivitas akademika berbagai kampus di Indonesia bersuara untuk mengkritik demokrasi pada era penghujung pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Adapun, Kritik tersebut mulai disampaikan usai  Joko Widodo menyampaikan pernyataan bahwa presiden boleh berpihak dan berkampanye.

Sebagaimana diketahui, sivitas akademika dari berbagai kampus antara Asosisasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Andalas (Unand), bersuara karena resah dengan situasi kebangsaan, khususnya pelaksanaan demokrasi di Tanah Air menjelang pemilu 14 Frebuari 2024. ** Editor : Tim Redaksi.

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *