banner 728x250

Sekjen DPP PDIP Sebut, Perjanjian Batutulis Tak Berlaku, Begini Kata Pengamat

Salam Politik, Ketua PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Partai Gerindra,Prabowo Subianto (Istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA,SINERGISATU.COM – Pilpres 2024 masih jauh, isu soal capres-cawapres mulai ramai diperbincangkan oleh partai-partai politik. Sebut saja Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri yang belakangan ini kian hangat di kalangan publik.

Dalam sebuah diskusi daring soal SARA Syndicate, Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto menyebutkan Perjanjian Batutulis yang disepakati Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sudah selesai pada Pemilu 2009.

banner 325x300

Pernyataan Hasto direspon oleh pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga. Ia menilai peluang PDIP dan Gerindra untuk berkoalisi pada pilpres 2024 masih sangat terbuka.

:Kemungkinan itu datang dari Hasto yang menyatakan PDIP nyaman berkoalisi dengan Gerindra, PKB, PAN, dan PPP. Hasto hanya menegaskan, PDIP tidak bisa berkoalisi dengan Partai Demokrat dan PKS yang berbeda ideologi,” Jamil, Sabtu (29/5/2021).

Menurut pengajar Metode Penelitian Komunikasi itu, peluang memasangkan Prabowo-Puan atau kader lain dari dua partai tersebut tampaknya masih terbuka.

“Masalahnya tinggal siapa yang akan jadi capres dan cawapres. Kalau dilihat dari logika politik, seharusnya capresnya PDIP dan cawapresnya dari Gerindra. Logika itu didasari dari perolehan suara pada pileg 2019, dimana PDIP memperoleh suara paling banyak,” ujarnya.

Jamil menyebut, Hasto sudah memberi sinyal bahwa PDIP akan mengusung capres, bukan cawapres. Sinyal ini jelas, peluang calon PDIP menjadi cawapres menjadi kecil.

Di lain pihak, Prabowo dengan elektabilitas yang sangat moncer tentu sulit baginya untuk diusung sebagai cawapres. Apalagi kalau dipasangkan dengan capresnya Puan Maharani yang elektabilitasnya saat ini sangat rendah.

“Jadi, kalau Prabowo yang diusung Gerindra sebagai capres dan PDIP juga menghendaki posisi yang sama, maka sulit bagi kedua partai untuk berkoalisi. Kedua partai akan berpisah dan mencari partai lain untuk berkoalisi,” kata Jamil.

Lanjutnya, hanya saja masih ada sebersit harapan duet Prabowo-Puan maju pada pilpres 2024, mengingat ada kedekatan hubungan Mega dengan Prabowo. Sejak Prabowo masuk Kabinet Jokowi, hubungan Mega-Prabowo memang semakin hangat.

Sementara itu, Megawati pun tampaknya berkeinginan agar trah Soekarno mengisi posisi kepemimpinan nasional pada tahun 2024. Sebab, kalau pada tahun 2024 tidak menjadi presiden atau wakil presiden, maka trah Soekarno akan kehilangan momentum.

Bila itu terjadi, maka tidak menutup kemungkinan trah Soekarno juga akan meredup pasca Megawati menjadi Ketua Umum PDIP. Hal itu tentu tidak diinginkan Mega.

Selain itu, kata dia koalisi dua partai itu masih terbuka bila Prabowo tidak ikut nyapres. Gerindra misalnya mendorong Sandiaga Uno untuk cawapres, sementara PDIP mengusung Puan Maharani atau Ganjar Pranowo menjadi capres.

Pasangan Puan – Sandiaga atau sebaliknya memang dapat diduetkan. Hanya saja pasangan ini berpeluang menang pada pilpres 2024 sangat kecil. Penyebabnya faktor Puan yang memang kurang memiliki nilai jual.
Pasangan Ganjar – Sandiaga atau sebaliknya tampaknya lebih menjanjikan. Masing-masing individu memiliki elektabilitas yang baik. Keduanya punya nilai jual yang bagus untuk dipasarkan, sehingga peluang menang masih terbuka.

“Masalahnya, pasangan Ganjar-Sandiaga kemungkinan akan mendapat penolakan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Mega tampaknya akan kekeh mengusung Puan yang merupakan trah Soekarno,” ujar Jamil. **

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *