banner 728x250
OPINI  

Renungan Natal 2022 : Politik Allah Antitesis Politik Herodian (Bagian pertama dari dua tulisan)

Ilustrasi Kandang Natal,Kelahiran Tuhan Yesus (dok/Istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

NATAL atau kelahiran Yesus adalah suatu peristiwa teologis-historis-politiis. Suatu peristiwa antitesis politik Allah terhadap politik Herodes, tokoh yang dapat dijadikan model stereotip simbolis untuk para penguasa (istilah teknisnya adalah Herodian) di seluruh dunia dan di segala zaman. Mungkin Anda, para pembaca budiman, tidak setuju dengan diktum “Politik Allah”, karena dalam kitab suci kristen, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, mulai dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu, tidak ditemukan satu kata pun tentang “politik”. Apalagi dalam realitas kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di mana pun di dunia ini, politik lebih banyak dipersepsikan dan dipraktikkan secara negatif, kotor, jahat, makhiavelis alias tujuan menghalalkan cara demi meraih kekuasaan dan mempertahakannya.

Dengan demikian, kalau penulis mengaitkan Allah dengan politik, bisa dianggap sebagai suatu kekeliruan, kesalahan, sesat, dan bahkan dosa? Sabar dulu! Memang kitab suci kristen bukan buku politik yang mengajarkan bagaimana berpolitik praktis dan berkuasa, melainkan buku iman yang mengajarkan manusia untuk hidup menurut kehendak Allah agar dapat masuk surga setelah kematian. Namun bagi saya, mengaitkan Allah dengan politik bukan kesalahan dan bukan dosa. Karena kata dan pengertian politik sudah terimplikasi dengan sendirinya di dalam gagasan tentang “Kerajaan Allah”.

banner 325x300

Raja adalah sebuah konsep politik, kekuasaan, dan pemerintahan, sehingga tidak salah dan tidak sesat kalau saya mengatakan tentang politik Allah, kekuasaan Allah, dan pemerintahan Allah. Apalagi Yesus diutus ke dunia untuk mewartakan Kerajaan Allah dan Yesus sendiri disebut Raja Damai. Justru karena dikaitkan dengan kehendak dan tindakan Allah dalam sejarah keselamatan manusia dan dunialah, maka politik mendapat nilai positif berkebalikan dari persepsi dan praktik politik negatif. Berikut ini secara singkat saya akan mempertanggung-jawabkan tesis saya tentang “Politik Allah Antitesis Politik Herodian”.

Teologis-Historis

Natal adalah peristiwa teologis-historis, yaitu peristiwa Allah masuk dalam sejarah dengan menjadi manusia konkret yang bernama Yesus, yang disebut Kristus, sang Juruselemat. Adalah menarik bahwa hingga milenium ketiga ini Yesus tetap menjadi tokoh kontroversial. “Ah, mana mungkin Allah menjadi manusia yang bernama Yesus? Mustahil Yesus itu Tuhan! Hal itu tidak masuk akal, tidak logis. Yesus hanya nabi dan rasul. Menyekutukan manusia Yesus dengan Allah adalah syirik dan dosa sangat besar!”.

Demikianlah kurang lebih sanggahan dan kritik orang-orang yang sok teolog logis-rasional baik pria maupun wanita, sebagaimana dapat disimak lewat debat-debat teologis-apologetik yang begitu marak di media-media sosial Indonesia dewasa ini; debat yang, menurut saya, lebih banyak menghasilkan “sampah teologis-apologetik”, yang layak dimasukkan ke box sampah dalam laman you tube.

Perihal inkarnasi atau Allah menjadi manusia, meski bukan teolog rasional-logis, perawan Maria, perempuan biasa dan sederhana dari kota Nazaret, Galilea, Palestina/Israel, juga pada awalnya merasa mustahil dan tidak mungkin ia akan mengandung tanpa suami, ketika ia mendapat pemberitahuan oleh malaikat Gabriel, utusan Allah, tentang kelahiran seorang anak laki-laki, yang akan diberi nama Yesus. Status Maria masih baru bertunangan dengan Yusuf dari keturunan Raja Daud; mereka belum resmi menjadi suami-isteri.

Penginjil Lukas (wafat 84 M), setelah melakukan penyelidikan dengan saksama tentang segala “peristiwa Yesus” (Luk. 1: 1-4), kemudian menulis sebagai berikut: “Ketika malaikat itu masuk rumah Maria, ia berkata: ‘Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.’ Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: ‘Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi…. dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamnya. … ‘ “ (Luk. 1: 28).

“Kata Maria kepada malaikat itu: ‘Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?’ Jawab malaikat itu kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi  akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah … Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.’ Kata Maria: ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan itu.’” (Luk. 1: 34-38).

Yohanes Penginjil (wafat 110 M), seorang murid langsung Yesus, juga melakukan refleksi teologis tentang “peristiwa Yesus”, kemudian menuliskannya baik dalam Injil maupun dalam Surat-Suratnya. Bahwa peristiwa Yesus itu benar-benar faktual-historis, ditulis oleh Yohanes sebagai berikut: “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan kepada kamu” (1 Yoh. 1: 1).

Bahwa Yesus adalah Firman Allah yang hidup, yang menjadi manusia dan hidup di antara sesama manusia, diungkapkan oleh Yohanes dalam prolog Injilnya sebagai berikut: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dia adalah hidup dan hidup itu adalah terang manusia … “ (Yoh. 1: 1-4)… “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yoh. 1: 14). “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1: 18).

Bagi orang-orang beriman, memang tidak ada seorang pun yang tidak ingin selamat setelah kematian. Tidak ada seorang beriman pun yang tidak ingin melihat Allah, sang penciptanya. Namun siapakah dan bagimanakah Allah itu? Jawaban atas pertanyaan ini hanya ada pada Yesus. Hanya manusia kudus, suci, dan tanpa noda dosa, yaitu Yesus-lah, yang pantas disebut Anak Allah, yang akan menyatakan siapa dan bagaimana Allah. Itulah perbedaan besar antara tokoh Yesus-nya orang beriman kristen dengan semua tokoh pendiri agama-agama lain di dunia.

Oleh karena itu, perlu dipahami dan diimani bahwa peristiwa Allah menjadi manusia atau inkarnasi adalah puncak pembuktian “logika kemahakuasaan Allah Tritunggal sejak Alfa hingga Omega Sejarah Allah Tritunggal bersama manusia dan dunia”. Dan, untuk hal ini, tidak dibutuhkan suatu logika silogisme teologis yang rumit untuk dapat, memahami, mengakui, dan mengimani Allah Tritunggal dan Yesus adalah Tuhan, sang Juruselamat.

Nah, kefasikan orang-orang yang sok teolog rasional-logis adalah mereka melucuti sama sekali logika kemahakuasaan Allah dan menggantikannya dengan logika mereka sendiri yang dangkal untuk menalar kedalaman misteri Allah Tritunggal dan menalar misteri “Keilahi-insanian” Yesus.

Kritik si teolog sok logis-rasional tentang kemustahilan Allah Tritunggal dan Keilahi-insanian Yesus, itu sama saja dengan si teolog ingin “memustahilkan” atau menegasikan eksistensinya sendiri, sungguh suatu logika bunuh diri fatal. Padahal eksistensi dan hidup si teolog sok logis-rasional itu justru karena kehendak dan kerahiman Allah, yang memberikan nafas kehiduapan, ketika si teolog masih berbentuk janin hasil pembuahan sel telur dan sperma matang, dan bukan karena kehendak dan kemauan ayah-ibu si teolog itu (diandaikan teolog itu beriman).

Peter Lewuk, Cendikiawan Tana Ai,Maumere,Flores,Nusa Tenggara Timur

Historis-Politis

Selain peristiwa teologis-historis, Natal juga merupakan peristiwa “historis-politis”. Yesus lahir, besar, dan berkarya pada suatu periode sejarah ketika bangsa-Nya, Yahudi-Israel (Palestina) mengalami pergolakan politik baik eksternal maupun internal-domestik. Secara eksternal, Yahudi-Israel dijajah oleh bangsa Roma (27 SM-476 M) di bawah kekuasaan Kaisar Augustus (63 SM-14 M). Setelah Augustus meninggal dunia, dia digantikan oleb Kaisar Tiberius (42 SM-37 M). Dan, sebagai eksekutor kekuasaan kolonial di Palestina, diangkatlah Pontius Pilatus menjadi gubernur (yang menjabat 26-36 M).

Secara internal-domestik, terjadi konstelasi kekuasaan antara dua kubu. Pertama, kubu elite politik yang direpresentasi oleh (1) kaum Herodian, terutama Raja Herodes Agung (72 SM-?) dan putranya Herodes Antipas (20 SM-39 M). (2) Kaum aristokrat Saduki yang terdiri dari imam-imam dan orang-orang Yahudi kaya raya, yang mempunyai kuasa di bidang politik dan agama (mendapat legitimasi kolonial untuk mengontrol Bait Suci). (3) Kaum Zelot, nasionalis-revolusioner yang ingin memerdekakan bangsanya dari penjajahan Roma dengan jalan perang atau revolusi.

Sementara itu, kubu kedua adalah para elite agama yang direpresentasi oleh kaum Farisi dan Ahli Taurat serta kaum Eseni (yang menarik diri dari kehidupan publik dan hidup membiara). Para elite agama membuat Yudaisme menjadi “agama tanpa cinta”, kaku, formal-legalistik, sehingga Yesus banyak kali berkonflik dengan para elite agama.

Raja Herodes Agung sangat megalomaniak alias gila kekuasaan. Ia khawatir tahkta kekuasaannya akan tumbang oleh Raja Yahudi yang baru lahir, Mesias, yang juga dicari oleh para majus dari Timur untuk disembah dan diberi hadiah mahal. Herodes meminta agar para majus itu kooperatif dengan melaporkan kepada Herodes setelah para majus itu bertemu dengan raja Yahudi yang baru lahir itu. Sebab Herodes juga ingin menyembah Dia.

Akan tetapi, terjadi cilaka tiga belas! Para majus itu, atas petunjuk dalam mimpi, pulang ke negeri mereka melalui jalan lain, tanpa melapor ke Herodes. Tentu saja Herodes marah besar karena merasa diperdaya. Atas perintahnya terjadilah pembunuhan anak-anak Betlehem di bawah umur dua tahun, dengan perhitungan bayi Yesus juga ikut terbunuh. Beruntunglah sebelumnya, Allah telah meminta Yusuf, dalam mimpi, untuk memboyong Maria dan Yesus mengungsi ke Mesir. Baru setelah Herodes Agung meninggal dunia, Yusuf, Maria, dan Yesus kembali ke Israel (baca Mat. 1: 1-23).

Setali tiga uang dengan ayahnya, Herodes Antipas juga gila kuasa. Ia menikahi iparnya, yaitu Herodias, isteri Filipus, saudara Herodes Antipas sendiri. Pernikahan itu dikritik oleh Yohanes Pembaptis: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu.” Akibatnya, Herodes mengirim Yohanes ke hotel prodeo. Kemudian atas permintaan Herodias, yang dendam terhadap Yohanes, maka kepala Yohanes Pembaptis pun dipenggal di penjara dan dijadikan hadiah ulang tahun Herodes Antipas. Sungguh kejam perbuatan kedua suami-isteri itu (baca Mrk. 6: 17-29).

Herodes juga “banyak melakukan kejahatan” (Luk. 3: 19). Selain dikritik oleh Yohanes Pembaptis, Herodes Antipas juga dikritik oleh Yesus, yang mencap dia sebagai “serigala”. Akibatnya Herodes juga ingin membunuh Yesus, sehingga beberapa orang Farisi datang meminta agar Yesus menghindar (Luk. 13: 31-32). Itulah latar singkat konsteks historis-politis hidup dan karya Yesus.

Para Herodian Milenial

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Herodes adalah model stereotip simbolis untuk para penguasa di dunia di segala zaman. Juga Yesus mengecam Herodes sebagai “serigala”. Kecaman Yesus itu mengingatkan saya akan peribahasa Latin: Homo homini lupus est, artinya “manusia adalah serigala bagi manusia lain”, yang pertama kali dicetuskan oleh sastrawan Roma kuno bernama Plautus (wafat 184 SM). Homo homini lupus kemudian dipopulerkan lagi oleh Thomas Hobbes (1588-1679), filsuf berkebangsaan Inggris dalam karya filsafat politiknya: De Cive atau Warga Negara (1642). Dari kata lupus (serigala) dan Herodes, dapat dibentuk istilah teknis: “herodius lupus” untuk menggambarkan penguasa yang berwatak serigala, yang hilang nurani kemanusiaannya, dan digantikan  dengan naluri kebinatangan.

Selain mencap Herodes serigala, Yesus juga memberikan kritik tentang “politik tangan besi” dan “politik kekerasan” sebagai berikut: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembersar menjalankan kuasanya dengan karas atas mereka” (Mat.20: 25).

Kritik Yesus tersebut di atas sangat aktual dan relevan bila dikontekskan dengan para penguasa dunia dari zaman ke zaman, dari milenium ke milenium. Penguasa yang berwatak heordius lupus, jelas akan memraktikkan politik tangan besi dan politik kekerasan, baik pada skala global maupun skala nasional masing-masing negara. Manifestasi politik tangan besi dan politik kekerasan paling konkret pada skala global-nasional adalah produksi senjata-senjata konvensional kelas berat: tank, rudal, roket, drone, senjata nuklir, biologi, dan kimia untuk keperluan perang konvensional. Yaitu perang terbuka dan langsung secara fisik dengan kontak persenjataan canggih. Perang konvensional diatur dalam Konvensi Jenewa, 1949.

Sekedar untuk pengetahuan, bacalah sejarah Perang Dunia I (1914-1918), Perang Dunia II (1939-1945), dan mungkinkah akan terjadi Perang Dunia III (yang secara hipotetis berarti konflik militer skala besar di seluruh dunia setelah PD I dan PD II). Selain itu ada perang ideologi dan perang ekonomi antara negara-negara kuat atau adikuasa. Dan terakhir adalah terorisme internasional-domestik.

Akibat dari semua perang dan terorisme adalah pasti: kematian manusia, kehancuran properti, pengungsian besar-besaran, tawanan perang, wabah penyakit, kemiskinan-kemelaratan, penjajahan ekonomi, konflik laten, kerusakan lingkungan hidup, pemanasan global, bencana kelaparan, ketidakadilan global-nasional, perdamaian dunia hanyalah ilusi karena si vis pacem para bellum (kalau mau damai persiapkan perang). Lunturnya moralitas kemanusiaan universal dan sebgainya. Singkat kata: politik tangan besi dan politik kekerasan yang dikritik oleh Yesus itu akan berakibat fatal: “Bencana kemanusiaan, persaudaraan, solidaritas, dan pelanggaran hak-hak asasi manusia”!.

Selamat Natal 25 Desember 2022 dan Selamat Tahun Baru 01 Januari 2023. ***

Penulis adalah cendekiawan Tana Ai, Maumere, Flores, NTT.

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *