banner 728x250

Refleksi Kamis, Mengasihi dan Memaafkan Musuh, Mungkinkah?

Paus Yohanes II saat berbincang dengan pelaku penembak, Mehmet Ali Agca,seorang seorang ekstremis Turki saat menjenguk pelaku di Penjara kota Roma. (Foto: istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

SINERGISATU.COM-Minta maaf bahkan mengampuni orang lain atau kelaurga inti atas kesalahannya memang berat untuk dilakukan. Hal itu jauh lebih sulit untuk memaafkan. Banyak sudah contoh mereka yang melakukan hal yang sangat luar biasa terhadap para pelaku baik dalam kasus pencobaan pembunuhan bahkan telah membunuh mereka yang dianggap musuh bebuyutannya.

Beberapa contoh, Paus Yohanes II yang memaafkan calon pembunuhnya Mehmet Ali Agca. Pada 13 Mei 1981, Yohanes Paulus II nyaris tewas ketika ditembak oleh Mehmet Ali Agca, seorang ekstremis Turki. Kala itu, Sri Paus sedang memasuki Lapangan Santo Petrus untuk bertemu para peziarah. Namun tiba-tiba Mehmet Ali Agca melepas tembakan ke arah tubuh Paus Yohanes sebanyak 4 kali tembakan dan tubuh pria Polandia itupun rubuh.

banner 325x300

Paus dilarika ke Rumah Sakit dan segera dilakukan operasi hingga 5 jam dan akhirnya nyawanya terselamatkan.
“Aku memaafkanmu, Sahabat. Aku mengampunimu,” ujar laki-laki itu sambil memeluk Mehmet Ali Agca, laki-laki muda itu, seperti diceritakan dalam Takhta Suci Vatikan (2005).

Kata maaf ia sampaikan secara terbuka pada 17 Mei 1981, 4 hari setelah upaya pembunuhannya yang gagal. Paus bahkan mengunjungi Agca di penjara pada 1983.Keduanya bercakap-cakap dan berbincang-bincang beberapa lama. Setelah pertemuan tu, Paus kemudian berkata: “Apa yang kami bicarakan harus merupakan rahasia antara dia dan saya. Ketika berbicara dengannya saya anggap ia adalah seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya percayai sepenuhnya.”

Paus Yohanes II Menjenguk Pembunuhnya di Penjara Kota Roma (istimewa)

Setelah bebas dari hukuman atas pemaafan Paus Yohanes II, Mehmet Ali Agca bertobat dan dikabarkan telah berpindah keyakinan menjadi seorang pemeluk Katolik.

Kisah lain, seperti dilakukan Rukiye, ibu Suliman korban pembunuhan oleh Javon . Peristiwa itu terjadi pada 28 Juni 2015, di South Cumminsville, Amerika Serikat.Saat Suliman Abdul-Mutakallim sedang berjalan pulang dari White Castle,tiba-tiba dia diserang dengan menggunakan piau dapur yang disembunyikan di kaos kaki pelaku.

Setelah sidang, Rukiye meminta Hakim Common Pleas Hamilton County, Megan Shanahan untuk izin. Sikap Rukiye diluar prediksi antara pengampunan dan dendam.

Ia berjalan mendekati Javon dan memeluknya. Dia juga memeluk ibunya juga saudsara-saudara pelakunya. Rukiye ingin menunjukkan bahwa dia bisa melihat melampaui tindakan yang membunuh putranya.

Rukiye, ibu Suliman korban pembunuhan oleh Javon . Peristiwa itu terjadi pada 28 Juni 2015, di South Cumminsville, Amerika Serikat. Tampak Rukiye memegang foto putranya (Istimewa)

“Aku tidak membencimu, aku tidak bisa membencimu, itu bukan cara kami, menunjukkan rahmah (rahmat), itulah cara kami,” kata Rukiye dalam video Mom Comes Face to face with her Son’s Killer (youtube).

Dalam kotbah-Nya di bukit, Yesus berpesan bahkan memerintahkan agar para pengikutnya tidak perlu bersikap reaktif bila mana diperlakukan secara kasar,tidak adail bahkan (dibunuh) sekalipun mereka harus tetap “mengasihi,mengampuni” para musuh-musunya.

“Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Dia melanjutkan, Tetapi Aku berkata kepadamu.Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di Surga (Mat, 5:44-45a)”.

Secara manusiawi jika dipikir-pikir, Pesan dan Perintah sang guru (Yesus) ini rumit dan sulit. Bahkan (mungkin) sangat radikal. Coba bayangkan, (Manusia) siapa sih yang mampu dan bisa (untuk) rela “mengasihi musuh atau orang yang memusuhinya?” sementara dia merasa telah dilecehkan,bahkan telah kehilangan nyawa orang yang sangat dicintai. Ini adalah kekonyolan.

Javon, Pelaku pembunuh putra Rukiye, yakni Suliman (en.goodtimes.my)

Kemustahilan yang luar biasa. Sangat menjadi tidak mungkin! Tetapi itulah yang diinginkan oleh Yesus. Dia ingin supaya para para pengikutNya belajar menjadi “sempurna” seperti Bapa-Nya di Surga.

“Sebab Ia membuat matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat dan bagi orang yang baik pula, hujan pun diturunkan-Nya bagi orang yang benar dan juga orang yang tidak benar (Mat, 5:45)”. Pertanyaannya, apa yang dapat kita maknai dari pesan firman ini?

Refleksi Kehidupan Bahwa Perintah untuk mengasihi musuh ini memang sulit untuk di lakukan. Karena dalam kenyataan hidup, kejahatan justru sering terjadi dalam kehidupan umat manusia.

Saling menjatuhkan satu dengan yang lain adalah sifat ego sektoral yang sangat mengemuka dalam kehidupan sosial.

Namun, sebagi orang beriman kita terpanggil untuk berusaha, biar perintah Kasih dari Tuhan Yesus,Allah Sang Pencipta, Sang pemberi hidup tetap dapat diwujudkan dalam kehidupan sebagai orang yang beriman. Berkat Nya melimpahi kita semua. Semoga bermanfaat. **

Sumber : Pater Jacob, Grup Tana Ai Bersatu (TABE).
Editor : Domi Dese Lewuk.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *