banner 728x250
BERITA  

“Rakit” Gervasius Gedo, Pelajaran Penting Bagi Pengelola Bendungan Napun Gete

Gervasius Gedo (46) tahun, warga yang dikabarkan tenggelam saat menyeberang dengan Rakit di Bendungan Napun Gete, Waiblama,Sikka-NTT (Foto : Dok/Istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA,-Kabar Duka menyelimuti warga Tana Ai di wilayah Maumere Timur, Kecamatan Waiblama, Desa Ilin Medo, Dusun Lelabura RT/RW 005/002, Kabupaten Sikka,Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Seorang warga bernama Gervasius Gedo (46) tahun mengalami musiba jatuh dari rakit saat menyeberang di kawasan Bendungan Napun Gete, Selasa (30/8/2022) pukul 20.00 Wita.

banner 325x300

Seperti dikisahkan oleh saudara ipar Laurensius Heret Soge, pengusaha kuliner “Bakmi Jhon” di Sampit Melawai” Jakarta Selatan. Pak Lorens,demikian disapa, berasal dari Desa Natar Mage, Kecamatan Waiblama, dimana kawasan Bendungan Napun Gete tersebut dibangun.

Ia merupakan salah satu Putera Tana Ai yang sukses membangun bisnis kuliner di Jantung Ibu Kota Negara RI, Jakarta. Lorens mengaku prihatin dengan musiba naas menimpa saudara iparnya pada pukul 20.00 Wita,Selasa 30 Agustus 2022.

Laurensius Heret Soge, Tokoh masyarakat Tana Ai Jakarta, Pengusaha Sukses Kuliner (Bakmi Jhon) Sampit Melawai,Jakarta Selatan.

” Mo’at Servasius pulang mengikuti upacara adat di Desa Werang dan hendak menuju rumahnya di Desa Ilinmedi.Korban (Pak Servasius-red) dijemput oleh Bernadus yang membantu menarik rakitnya untuk menyeberang.Namun, sesampai di darat, ternyata Gervas sudah tidak ada di atas rakit.

Nah, melihat Gervasius sudah tak ada di atas rakit, Bernadus pun panik dan langsung berteriak meminta pertolongan warga yang jaraknya berkisar 100 meter dari tepi bendungan.

“Warga berkumpul dan mencari sambil menginformasikan kepada Pospol Talibura pada Pukul 20.30 wita,” masih kata Lorens.
Saat ini kata Lorens, upaya pencarian di lokasi kejadian tengah berjalan. “Harapannya semoga segera ditemukan,” katanya.

Lorens juga menyarankan supaya masyarakat dibangunkan sarana penyeberangan apapun itu bentuknya. Memang ada jalan namun mereka harus melewati rute yang menurutnya cukup jauh sehingga satu-satunya cara masyarakat dengan menggunakan rakit yang seadanya. Tentu saja ini sangat riskan jika hanya menggunakan rakit dari bahan bambu misalnya.

Bapak Gervasius Gedo

Sarana penyeberangan dan rambu

Atas peristiwa tersebut, Lorens pun menyarankan supaya pihak pengelola dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Sikka harusnya dari awal memikirkan sarana penyeberangan bagi warga. Tidak hanya untuk mereka yang ingin menyeberang,tapi juga bagi wisatawan yang ingin menikmati pemandangan Bendungan Napun Gete yang dikelilingi bukit dan begitu indah untuk dinikamti.

“Akses jalan dari Werang ke Ilinmedo memang ada tapi mungkin terlalu jauh sehingga warga terpaksa menggunakan jalan pintas menyeberang dengan memakai rakit atau getek dari bambu.

Selain itu kata dia, bahwa pihak pengelola juga harus memasang rambu-rambu di kawasan bendungan tersebut. “Harus dilengkapi dengan rambu-rambu,karena genangan air di kawasan Bendungan itu memang sangat luas. Misalkan, kalau warga ingin menggunakan rakit saat menyeberang, maka ditentukan saja jalur aman untuk menggunakan rakit. Demikian juga dengan fasilitas rakit harus memenuhi syarat keselamatan. Jangan asal-asalan rakit yang seadanya. Kita juga tak bisa menyalahkan orang lain.Hanya saja setiap kebijakan yang diambil harus diperhatikan betul,sehingga dapat mengurangi resiko, sejauh hal itu dapat dilakukan,” tutup Laurens. ** Timred.

 

 

 

 

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *