banner 728x250
BERITA  

Pimpin Misa Kaul Kekal Empat Suster di Roma, Pastor Markus Solo : Hidup Membiara Bukan Kontrak

Padre Marco memimpin Misa Kaul Kekal Empat Suster dari Kongregasi Suster-Suster Karitas Bunda Yang Setia dan Penolong Abadi atau Congregazione delle suore di carità del Buon e Perpetuo Soccorso di Gereja Bunda Maria Penolong Abadi di Roma,Sabtu (1/10/2022).
banner 120x600
banner 468x60

Roma (Sinergisatu.com)- EMPAT Suster dari Kongregasi Suster-Suster Karitas Bunda Yang Setia dan Penolong Abadi atau Congregazione delle suore di carità del Buon e Perpetuo Soccorso mengikrarkan Kaul Kekal di Gereja Bunda Maria Penolong Abadi di Roma,Sabtu (1/10/2022).
Misa dalam prosesi Kaul Kekal ini dipimpin oleh Pastor Markus Solo Kewuta,SVD atau yang akrab disapa Padre Marco dalam tiga bahasa yakni Italia,Inggris dan Indonesia.

Adapun,keempat suster tersebut di antaranya dua dari Keuskupan Atambua, Timor, satu dari Ngada (Keuskupan Agung Ende), dan lagi dari Manggarai (Keuskupan Ruteng), Flores, Nusa Tenggara Timur. Mereka adalah Sr. M. Margareta Soi, Sr. M. Yuliana Hanul, Sr. M. Agata Mbewu, dan Sr. M. Monika Olo Mali.

banner 325x300
Empat Suster Penari dalam prosesi Perayaan Misa Kaul Kekal 4 Suster

Empat penari dengan mengenakan Lawo Lambu, busana tradisional yang sering dipakai perempuan di Kabupaten Ende, salah satu busana khas masyarakat Ende-Lio di Pulau Flores-NTT ,menghantar para yubilaris dan imam-imam konselebran menuju altar,diiringi paduan suara terdiri dari anggota biaran-biarawati yang kini bertugas di tanah misi Roma-Italia.

Dalam homilinya, Padre Marco SVD kembali menekankan bahwa, hidup membiara adalah sebuah panggilan, berbeda dengan kontrak atau memorandum of understanding (MoU).

“Oleh kerena itulah Yesus ingin menegaskan kepada kita bahwa kita hanya bebas melakukan hal yang benar dan betul, ketika Yesus tetap menjadi prioritas utama dalam hidup kita.”

“Hanya dengan itu kita bebas melayani Dia, dan sesama dengan bebas, tanpa batas, tanpa rasa takut tanpa cemas. Kebebasan batin yang Yesus berikan kepada kita ini membuat kita kuat sebagai pribadi dan orang terpanggil.”

Padre Marco dalam homili kaul kekal empat suter

Imam asal Kampung Lewouran,Desa Lewuo Tobi, Kecamatan Ile Bura,Kabupaten Flores Timur,Keuskupan Larantuka ini bahwa, ada tiga pilar dalam kehidupan kita yang membuat kita merasa aman dari dulu hingga sekarang bahkan mungkin untuk selama-lamanya.

“Pertama rumah atau tempat tinggal, kedua orang tua, dan ketiga keluarga dalam konteks bukan hanya dari keluarga inti,” sebutnya.

Menurutnya, ketegangan terletak pada jawaban Yesus dalam tiga pilar ini. Kata Yesus jika rumah atau tempat tinggal, jika orang tua, jika keluarga lebih penting daripada Aku maka anda tidak bisa mengikuti Aku.

“Apa maksud Yesus dengan perkataan ini. Bukankah dia ingin membebaskan kita semua dan merangkul kita semua tanpa syarat,” katanya.
Yesus, kata Padre Marco, tidak ingin menakuti-nakuti kita semua, dia tidak ingin memgundang hanya mereka yang memenuhi keiteria-kriteria tertentu.

Dia (Yesus) pun tidak ingin menerapkan tuntutan berbelit dan yang membebankan. Tetapi Dia mengatakan seperti dalam injil Mateus pasal 11 ayat 30 ‘Kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan’.

Di balik semua ini, lanjut Padre Marco, Tuhan sebetulnya peduli dengn kepribadian manusia yang kita sebut panggilan. Dalam arti kata, Dia memangiil dan membimbing semua yang Dia peduli dan Dia cintai ke dalam sebuah alam kehidupan yang bebas, hidup baru bersamaNya.

“Yesus ingin menjelaskan keterikatan kita dengan berbagai hal yang dilambangkan dengan 3 pilar tersebut. bahwa sejatinya keterikatan kita dengan berbaga hal di dunia ini akan terbukti dengan jelas melalui masalah-masalah yang kita hadapi. Dengan demikian kita bisa bersaksi dengan pengalaman kita. Ketika masalah demi masalah muncul dalam hidup kita di situ tampak dengan jelas dimana kita berpihak,” tandas Padre Marco.

Kepada empat suster yang mengucapkan kaul kekal, Padre Marco menekankan bahwa hidup memibara adalah sebuah panggilan. berbeda dengan kontrak atau memorandum of understanding.

“Kisah injil yang kita dengar hari ini ditempatkan Lukas persis sebelum Yesus memulai perjalanannya ke Yerusalem untuk memanggul salibNya hingga mengorbankan hidupnya sendiri di kayu salib mati bagi banyak orang,” terangnya.

Padre Marco menguraikan, Lukas mau mengatakan bahwa salib adalah bagian tak terpisahkan dari panggilan hidup seorang membiara. Tetapi Yesus setia memanggul salib Nya seturut kehendak Bapa dan bagi keselamatan umat manusia.

“Inilah yang menjadi kekuatan kita. Kesetiaan dan ketabahan Yesus membuatNya merasa bebas luar dalam. Dan kebebasan sejati inilah yang memampukan Dia untuk mencintai tanpa batas,” tutur Padre Marco.

Sr. M. Margareta Soi, Sr. M. Yuliana Hanul, Sr. M. Agata Mbewu, dan Sr. M. Monika Olo Mali.

Belajar dari Bunda Maria

Lebih jauh Padre Marco menjelaskan, keempat suster asal Indonesia tersebut mengatakan “ya” untuk bergabung secara penuh dan kekal dengan kongregasi Congregazione delle suore di carità del Buon e Perpetuo Soccorso dalam kaul-kaul kebiaraan: kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian.
Mereka mengumandangkan sebuah janji dan sumpah melalui sebuah kata singkat tapi penuh makna….”ya”. atau dalam versi Bunda Maria: aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu.

Menurut Padre Marco, kata “ya” dari Bunda Maria sekaligus kata kunci yang menutup berbagai ruang yang bisa mengganggu gugat Bunda Maria untuk bisa merasa jauh dari Tuhan dan sesama manusia.

Bunda Mara sebaliknya tetap setia dan fokus pada komitmennya terhadap Tuhan dan sesama. Ia memberikan segala sesuatu yang dia miliki hingga kekuatan paling akhir ketika harus berdiri menyaksikan putranya yang meninggal.

Dan fakta apa yang ada di depan dia adalah kehendak Tuhan, itu sudah cukup baginya untuk menyanggupi segala tugas dan tanggung jawab.

Foto bersama 4 suster berkaul kekal ,Padre Marco, Anggota Kongregasi Suster-Suster Karitas Bunda Yang Setia dan Penolong Abadi atau Congregazione delle suore di carità del Buon e Perpetuo Soccorso mengikrarkan Kaul Kekal di Gereja Bunda Maria Penolong Abadi.

“Di sini iman dan cinta benar-beranr murni dan sempurna dan terungkap melalui pengabdian yang penuh, Tuhan datang untuk mengubah. Dan Dia mengubah menyanggupkan manusia dengan sempurna secara intgral secara penuh luar dan dalam, sebagaimana Dia juga mencintai orang secara penuh secara sangat pribadi,” ucapnya.

Di akhir refleksi panggilan hidup membiara kepada empat suster , Padre Marco mengatakan bahwa keluarga, kongregasi, dan semua yang hadir mendukung penuh para suster yang menutuskan untuk hidup bakti secara kekal dan penuh.

“Semua berdoa bersamamu, Semoga Tuhan yang adalah awal dan akhir panggilan hidupmu, alfa dan omega, dahulu dan sekarang dan selama-lamnya. Yang telah memanggilmu dengan nammu masing-masing sejak dalam kandungan ibu seperti dikisahkan dalam bacaan pertama : yang datang dari tempat yang jauh, datang ke tempat yang luas semoga Dia menyambutnya dalam janji dan sumpah pada hari ini merangkulmu erat-erat dan menyertaimu selalu kapan dan kemana saja kalian berempat diutus demi kemuliaan Tuhan dan demi kesejahteraan umat manusia yang kalian lalui,” tutup Padre Marco. **

Editor : Faustinus Farel Lewuk.

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *