banner 728x250
OPINI  

Paradigma “Maju Ke Belakang Mundur Ke Depan”

Peter Lewuk
banner 120x600
banner 468x60

“MERDEKA BELAJAR “! Itulah filosofi dan kebijakan pendidikan yang dicanangkan pemerintah, dalam hal ini, Kemendikbud Ristek Republik Idonesia. Dengan “merdeka belajar”, diharapkan ke depan orang Indonesia akan bisa “merdeka dari” berbagai macam bentuk dan manifestasi “ketidakmerdekaan”. Sebagai seorang yang ingin terus belajar dan belajar, sejak sekolah dasar hingga usia tua ini, saya mengapresiasi filosofi dan kebijakan tersebut. Bahkan jauh sebelum filosofi itu dicanangkan, saya telah menganut filsafat kemerdekaan dan kebebasan ketika mulai belajar filsafat dan kemudian belajar berfiilsfat. Yang saya kejar adalah bukan gelar yang berderet-deret di depan dan di belakang nama saya.

Dan, memang saya sama sekali tidak mempunyai gelar-gelar prestisius, sebagaimana biasa dikerjar oleh banyak orang Indonesia. Bila perlu mereka “membeli” ijazah dan gelar-gelar itu, sekalipun kualitas akademis-keilmuan yang ditunjuk dengan gelar yang disandang itu sangat diragukan. Yang saya kejar adalah menjadi seorang “filsuf orisinil”, yang cinta akan kebijaksanaan dan kecerdasan, bukan gelar, bukan jabatan, bukan pangkat, dan bukan kekayaan. Merdeka belajar akan memacu kreativitas bernalar, termasuk belajar “menalar masalah yang sulit”, yang akan menghasilkan kemampuan memecahkan problem yang sulit pula.

banner 325x300

Dalam konteks itulah kreativitas nalar saya melahirkan “paradigma berpikir”: “Maju ke Belakang Mundur ke Depan”. Secara logika makna bahasa, memang tidak logis mengatakan tentang “dua proposisi yang masing-masingnya kontradiktoris. Yang lazim dan logis adalah mengatakan: “Maju ke Depan Mundur ke Belakang”. Namun sebaliknya, secara philosophical language game atau permainan bahasa secara filosofis, maka logika makna dari dua proposisi yang masing-masingnya kontradiktoris, itu tergantung pada maksud “sang penutur” bahasa. Oleh karena itu, tanyakan kepada si penutur bahasa, mengapa dia berkata demikian.

Saya sengaja menggunakan philosophical language game atau permainan bahasa secara filosofis, untuk latihan “olah nalar secara sulit” sebagai stimulan bagi kreativitas nalar, sehingga judul tulisan ini dibuat membingungkan. Namun, untuk gampangnya begini: Kita orang Tana Ai, terutama yang sarjana, atau yang telah pernah dididik di SMP SUPRA Talibura, harus melakukan refleksi dan kajian tentang problematika kehidupan orang Tana Ai dan mencarikan solusinya demi kemajuan kita orang Tana Ai.

Paralel dengan paradigma berpikir “Maju ke Belakang Mundur ke Depan” adalah apa yang dewasa ini sangat populer disebut gerakan Back To Nature atau “Kembali ke Alam”. Tentu maksudnya bukan manusia kembali ke hidup secara alamiah sebagaimana makhluk-makhluk alam lainnya. Tetapi sebaliknya, manusia harus menghargai “Hak-hak Asasi Bumi” beserta alam lingkungan hidupnya demi kebaikan hidup kedua belah pihak yaitu pihak manusia dan pihak alam dunia.

Gerakan kembali ke alam gencar dikampanyekan secara global karena kerakusan manusia modern, yang dengan gigantomania teknologis-teknokratis (atau kekuatan dan kekuasaan teknologi yang luar biasa besar), manusia modern melakukan imperialisme ekologis atas Hak-hak Asasi Bumi beserta alam lingkungan hidupnya (yang dalam masa Orde Baru pernah saya kritik). Akibat dari pemerkosaan terhdap hak asasi bumi dan alam lingkungan hidupnya adalah terjadinya pemanasan global, menipisnya lapizan ozon, ketidakmenentuan perubahan iklim, degradasi kualitas ekologis, munculnya penyakit akibat perlombaan dan percobaan senjata biologi serta nuklir dan sebagainya. Semuanya itu jelas sangat merugikan manusia dan kemanusiaan di muka bumi ini.

Ritual Ekak Nalu Wo, Syukuran atas Panenan Baru Suku Tana Ai (foto: Mongobay)

“Back ToTana Ai”

Dengan “Kembali ke Tana Ai atau dengan bahasa menterengnya Back to Tana Ai, saya ingin mengenang Tana Ai tempo doeloe (dulu), kemudian melihat tempo kini dan akan datang. Memang kita perlu “maju ke belakang mundur ke depan” demi kemajuan Tana Ai tempo kini dan akan datang. Zaman doeloe ketika alam dan iklim masih bersahabat dengan orang Tana Ai, maka para petani Tana Ai adalah petani yang kaya raya akan hasil pertanian, terutma padi dan jagung sebagai tanaman pokok. Meski topografi lahan pertaniannya termasuk “Pertanian Lahan Kering”, namun hasil pertaniannya termasuk bagus dan memuaskan karena didukung oleh iklim musim hujan dan musim panas yang teratur setiap tahunnya serta tanah berhumus organik alamiah, yang zaman itu belum dikenal penggunaan pupuk kimia atau pupuk anorganik.

Kekayaan petani Tana Ai tempo doeloe diukur, dengan menggunakan bahasa kearifan lokal, yang disebut “howe nalu” yang berarti berapa banyak hasil padi (nalu) yang diperoleh dari satu atau dua kebun yang dimiliki petani. Padi itu akan ditampung dalam “teli”, semacam wadah penampung padi yang dianyam dari daun lontar. Ukuran teli mulai dari yang terbesar hingga kecil, yang disebut: “eta telun”, “tiwan”, “eta”, “kobor” hingga “suket” dan “rahan”. Urutan jenis-jenis teli tersebut menujukkan yang paling berat tonasenya hingga yang kurang tonasenya. Tonase terberat adalah eta telun menyusul tiwan dan seterusnya.

Selain hasil pokok pertama adalah padi, juga hasil pokok kedua adalah jagung, yang diikat-rantaikan dengan menggunakan tali waru, yang dalam bahasa kearifan lokal disebut kei water, kemudian dililitkan pada batang bambu. Semakin banyak batang bambu berarti semakin banyak kilogram (bisa juga mencapai ton) jagung yang diperoleh, yang dalam bahasa kearifan lokal disebut “watar hower”, yang berarti berapa banyaknya jagung (watar) yang diperoleh. Juga bermacam-macam hasil kebun yang tahan lama, misalnya kacang tanah dan sebagainya. Lumbung petani penuh dengan padi dan jagung. Para petani Tana Ai pun happy.

Di samping hasil pertanian berupa padi dan jagung, juga ada barang-barang berharga lain, misalnya gading, gong, dan tipa, yang didapat antara lain dari sistem barter dengan para pedagang dari luar Tana Ai atau antarorang Tana Ai sendiri. Barang-barang berharga ini juga menjadi ukuran kekayaan. Biasanya gading, gong, dan tipa itu diritualkan sehingga menjadi pusaka adat yang bernilai sakral.

Dengan demikian, pada zaman kami tempo doeloe boleh dibilang tidak ada masalah dengan kemiskinan dan kelaparan.  Memang orang Tana Ai pernah mengonsumsi bulgur akibat masa paceklik yang melanda negeri ini. Tapi seingat saya, minimal di kampung atau dusun saya Watutena, lumbung kami masih menyimpan padi dan jagung kala itu. Jadi, kami tidak lapar-lapar amat. Kami mengonsumsi bulgur ketika itu karena dibagi gratis oleh pemerintah. Setiap suku Tana Ai mempunyai kearifan untuk menjaga agar hasil panen tidak segera habis. Itu zaman dulu. Untuk sekarang saya tidak tahu.

Nah, bagaimana dengan kondisi petani Tana Ai zaman sekarang? Lantaran sudah setengah abad lebih tinggalkan kampung halaman, maka saya tidak berani mendeskripsikan secara objektif kondisi alam dan pertanianan Tana Ai dewasa ini. Namun berdasarkan pengetahuan umum dan komunikasi dengan orang-orang kampung saya, diinformasikan bahwa kondisi tanah sekarang tidak lagi sesubur zaman sebelum penggunaan pupuk kimia atau pupuk anorganik. Panggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu yang sangat lama jelas akan merusak tekstur tanah menjadi kering kerontang. Kalau zaman dulu padi tumbuh hampir setinggi si petani dengan bulirnya yang panjang-panjang dan berbutir besar-besar, sehigga hasilnya memuaskan para petani. Zaman sekarang ukuran padinya pendek-pendek dengan bulir yang juga pendek dan berbutir kecil-kecil. Penggunaan pupuk kimia pun masih tetap meraja lela. Tidak heran hasil yang diperoleh pun tidak memuaskan.

Gedung SMPK Supra Talibura. Sekolah Perintis di Wilayah Tana Ai,Kabupaten Sikka, Kecamatan Talibura berdiri pada tahun 1959. Sebelumnya Gedung Sekolah dibangun di Habihodot, Dekat Kantor Camat Talibura setelah itu Pindah ke Watubaing (saat ini). Penulis adalah alumni SMPK Supra Talibura,Asal Watutena-Boganatar) Tana Ai.

Tripilar Supratani

Tepo ganu Ina Nian Tana duru donen, Ama Lero Wulan plage maring, atau seturut kehendak Amapu (Tuhan) Sang Pencipta, maka “nama Tana Ai” itu sendiri sudah mengharuskan atau meniscayakan kita untuk mengutamakan “pembangunan pertanian unggul”, yang ditopang oleh Tripilar atau tiga pilar utama yaitu: Pendikian, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi, yang dilengkapi dengan Ekologi sebagai “Sumber Pengetahuan Rakyat” (SUPRA) Petani Tana Ai”, yang disingkat menjadi TRIPILAR SUPRATANI. Ini suatu terobosan paradigma berpikir sebagai solusi atas masalah “Pertanian Lahan Kering Tana Ai dengan topografi lahan pertanian yang berbukit-bukit dan berlereng-lereng melandai bahkan terjal, berikut “desuburisasi (proses tanah menjadi tidak subur) akibat pemakaian pupuk kimia dalam jangka sangat lama sejak Orde Baru hingga Reformasi.

Didirikannya beberapa SMP, SMA, dan SMK di wilayah Tan Ai, tentu sangat menggembirakan. Namun itu saja tidak cukup. Kita menghendaki lebih dari itu, yaitu adanya sebuah Lembaga Pendidikan Keahlian Bidang Pertanian, yang akan membuat Tana Ai menjadi “Sentra Pertanian Terpadu, Unggul, dan Cerdas”. Katakanlah sebagai misal, nama lembaga itu adalah “AKADEMI PENDIDIKAN SUPRATANI” (atau nama lain, silahkan dipikirkan dan ditentukan).  Atau, mengikat saya belum atau tidak tahu, apakah memang lembaga seperti yang dimaksud itu sudah ada di Tana Ai? Kalau sudah ada syukurlah!

Yang terpenting adalah melakukan terobosan paradigma berpikir di bidang pendidikan di Tana Ai dengan dua sasaran utama. Pertama, menghasilkan “tenaga ahli pertanian” dengan porsi persentase sebesar enam puluh persen (60%). Kedua, sisanya yang empat puluh persen (40%) untuk porsi guru atau pendidik, pegawai negeri dan swasta, politisi, sarjana hukum, aparatur pemerintah, TNI/POLRI, wirausahawan dan sebagainya. Saya sengaja menggunakan istilah “tenaga ahli pertanian”  ketimbang “sarjana” pertanian, yang berkonotasi white collar scholars atau “sarjana kerah putih”, berdasi dan berjas, yang takut tangannya penuh lumpur, yang tidak mau keringat sekujur tubuhnya beraroma tanah akibat terbakar terik matahari, atau yang tidak mau berbasah-basahan karena diguyur hujan di kebun. Pendidikan Pertanian tidak akan mencetak “sarjana” pertanian bermental “orang kantoran”, atau bermental pegawai negeri yang mengandalkan gaji dan jaminan pensiun dari negara.

Harus dibuang jauh-jauh pola pikir: “Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, akhirnya kembali ke kebun juga”? Sebaliknya, yang harus dipupuk adalah pola pikir: “Bersekolahlah tinggi-tinggi, untuk kembali ke kebun dengan segudang keahlian di bidang pertanian, demi menjadikan orang Tana Ai hidup makmur dan sejahtera”. Namun, harap dicatat bahwa menjadi guru, pegawai negeri dan swasta, politisi, sarjana hukum, aparatur pemerintah, TNI/POLRI, itu juga sama pentingnya dengan tenaga ahli pertanian, karena hanya ada satu tujuan  bersama yaitu demi kemajuan dan kemakmuran hidup orang Tana Ai. Bedanya dalam porsi persentase saja, karena hakikat eksistensi orang Tana Ai adalah “petani” yang sama harkat dan derajatnya dengan yang lain.

Para perempuan suku Lewar sedang menarikan tarian Togo, bentuk penghormatan dan ucapan syukur kepada pencipta langit dan bumi dan para leluhur saat berada di Mahe. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

Pokok dan Terpadu

“Akademi Pendidikan Supratani” adalah “Lembaga Pendidikan Keahlian Bidang Pertanian”. Inilah yang saya sebut “Kontekstualisasi Pendidikan”, disesuaikan dengan konteks kehidupan daerah setempat. Dengan demikian, mata ajaran atau mata kuliah pokok adalah: Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, didukung dengan Ekologi. Oleh karnanya, yang akan diajarkan atau dikuliahkan adalah: “Matematika Pertanian”, “Biologi Pertanian”, “Kimia Pertanian”, “Fisika Pertanian”, “Teknologi Pertanian”, dan “Ekologi Pertanian”. Tentu saja Pertanian bukanlah sebuah bidang eksklusif, melainkan inklusif terintegrasi atau terpadu dengan subbidang-subbidang Pertanian seperti: Tanaman Pangan, Perkebunan, Kehutanan, Peternakan, dan Perikanan. Semua subidang itu ada ilmunya, yang akan diajarkan oleh tenaga ahli pendidikan atau para dosen, yang memang profesional dan ahli di bidang disiplin ilmunya masing-masing.

Lantas bagaimana dengan pendidikan agama, Pancasila, kewarganegaraan, dll? Bidang-bidang studi seperti itu fakultatif saja sifatnya. Bila perlu diperlajari secara otodidak, sebagai pelengkap (namun bukan berarti tidak penting). Akademi Pendidikan Supratani hanya fokus pada mencetak para “tenaga ahli” yang profesional di bidang pertanian demi meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran petani Tana Ai.

Bidang pendidikan dengan segala macam problematiknya yang rumit itu, memang bukan menjadi kompetensi saya untuk membahasnya. Apa yang saya kemukakan dalam tulisan ini hanyalah sekadar pengetahuan umum saja. Terutma masalah kelembagaan dan infrastruktur pendidikan, finansial dan investasi, serta SDM. Begitu pula jika gagasan ini mau direalisasikan, maka diperlukan Panitia Persiapan Pembentukan “Akademi Pendidikan Supratani”, yang harus melakukan kajian komprehensif-multidisipliner yang dituangkan dalam sebuah “Proposal Akademik” untuk dikomunikasikan dan didiskusikan dengan para pihak, seperti: Gereja Katolik, Pemerintah, dalam hal ini, Kemendikbud Ristek dan Kementerian Pertanian, serta Konsorsium CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan-perusahaan nasional. Semuanya itu perlu menjadi komitmen bersama para sarjana dan kaum cendekiawan Tana Ai, seandainya gagasan Akademi Pendidikan Supratani ingin direalisasikan.***

Penulis adalah cendekiawan Tana Ai, Flores, NTT (alumni SMPK Supra Talibura).

 

 

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *