banner 728x250
OPINI  

Merayakan Persatuan Dan Kebangkitan Peradaban

Abdullah Sartono, Sekjen SNKB,Pegiat Literasi dan Aktivis Sosial Kemanusiaan Pedalaman
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Abdullah Sartono

HATE speech no more. Indonesia forever”. Barangkali demikian awal pesan moral penuh kehangatan yang ingin kami sampaikan. Oleh karena persaingan politik dan pembelahan sosial antar kandidat dan tim pendukung yang kian hangat menghiasa berita media, gosip warganet dan diskusi warung kopi.

banner 325x300

Tidak ada yang baru. Panggung debat dan tepuk hore menjadi ajang persaingan dalam menyampaikan ide, gagasan dan narasi politik para kandidat untuk lebih meyakinkan calon pemilih. Menjadi tradisi demokrasi, budaya bangsa dan hal biasa yang berulang di Republik ini.

Yang sangat disayangkan adalah persaingan tidak sehat antar tim pendukung dan para kandidat. Mengumbar aib politik yang berlebihan, menyerang pribadi dan dengan deretan istilah-istilah politik yang minus edukatif pada ruang-ruang terbuka.

Sedangkan pada saat yang bersamaan kita menginginkan hadirnya sebuah peradaban bangsa yang lebih santun dan bermartabat. Masyarakat publik yang mampu menahan lisan dan tangannya untuk kehormatan dan kemuliaan sebuah peradaban yang baik.

Fitnah; semangat untuk menyebarkan hoax apalagi hate speech menjadi hal yang dianggap lumrah dan tak berdosa sama sekali dilakukan oleh tokoh dan para politisi yang diikuti dengan sentimen partisan, pemilih irasional, emsioanal serta masyarakat bawah dan yang awam politik.

Oleh karenanya determinasi sosial untuk bangkit bersama, saling percaya antar anak negeri dan memungkinkan kolaborasi, adalah sebuah harapan baru untuk negeri yang berwibawa; cinta damai, penuh kehangatan dalam keluarga bangsa yang ceria.

Pilpres hanyalah instrumen demokrasi untuk memilih pemimpin terbaik, bukan kesempatan untuk menggunjing dan menghasut kawan yang berbeda nomor urut. Bukan pula kesempatan untuk balas dendam dari sakit hati karena keberpihakan dan kepentingan politik masa lalu.

Pilpres ceria musti dimaknai sebagai momentum merayakan persatuan dan untuk kebangkitan peradaban bangsa yang akan menjadi rujukan. Pilpres musti menghadirkan cinta dan kehangatan pada pesta demokrasi yang dirindukan dalam lima tahunan.

Bukankah kita semua datang dari satu rumpun keluarga; sebagai entitas bangsa yang berkasih sayang, humanis dan cinta perdamaian?. Pilpres ceria demikian pula rakyatnya. Begitu pesan hikmah yang selalu terlewatkan tanpa makna.

Peran tim pemenangan juga kandidatnya musti memberikan edukasi politik yang santun. Menjaga keutuhan dan persatuan, juga tidak anarkis dalam merespon perbedaan dengan tajam dan menyerang personal.

Jiwa negarawan dan determinasi diri seorang tokoh politik dalam meyakinkan massanya untuk tidak membuat onar dan menciptakan hate speech. Itu sangat diharapkan agar terciptanya tujuan demokrasi yang sehat dan mendatangkan maslahat.

Bahwa pemimpin yang baik itu lahir dari rakyat yang baik. Begitupun sebaliknya pemimpin yang kurang dihargai itu lahir dari rakyat yang kurang saling menghargai. “Sebagaimana keadaan kalian, begitulah keadaan pemimpin kalian.”

Yang kita harapkan adalah takdir baik dan ridha Tuhan dalam kemenangan politik, bukan kemurkaan-Nya. “Jika Allah ridhoi suatu kaum, maka Ia akan mengangkat orang terbaik dari mereka sebagai pemimpin, dan jika Ia murkai suatu kaum, maka Ia akan mengangkat orang terjahat dari mereka sebagai pemimpin.” (HR. Turmudzi)

Orang baik adalah mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keutuhan dan persatuannya. Tidak mudah terpancing oleh hasutan, tak emosional, matang menyikapi perbedaan dan mampu memahami kekhasan dari cara berpikir juga watak rival.

Orang baik adalah mereka yang menjunjung tinggi kesepakatan damai dan tidak saling menyerang. Kita percaya, bahwa orang baik adalah mereka yang menghargai setiap perbedaan. Hal biasa orang berbeda dalam memilih. Ia fitrah kemanusiaan dan sunnatullah kehidupan.

Orang baik itu merangkul bukan memukul. Hindarilah pukulan, karena sekali pukulan kan membekas. Bahwa orang baik adalah mereka yang mudah memaafkan walau terasa berat olehnya.

Persaingan politik dan pembelahan sosial berlebihan; menjadikan orang kehilangan akal sehat, hingga berani untuk menikung kawan. Kita ini tidak sedang dalam perang besar dan bersenjata hingga menaruh dendam dan amarah bak ular berbisa.

Kekompokan dan kolaborasi itu jauh lebih berarti dari pada menabuh perang saat emosional dan darah sedang panas. Determinasi diri, matang dan kebesaran jiwa seorang calon pemimpin itu menjadi alasan kita menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang besar itu bangsa yang saling menghargai.

Kebesaran sebuah bangsa itu juga selalu tersambung dengan rakyat yang saling percaya. Rakyat yang memiliki kemerdekaan jiwa dan raga, penguasaan dan pengendalian diri yang kuat atas mimpi-mimpi kecemerlangan dan cita-besar yang ingin mereka raih, itulah self determination.

Rakyat dan politikus yang tersambung dengan mindset demikian, maka harapan akan pilpres yang ceria. Jauh dari ghibah politik dan terciptanya keutuhan kita sebagai keluarga bangsa yang cinta damai.

Dengan semangat persatuan itulah founding fathers mampu mengumpulkan serpihan potensi berserakan. Dengannya mereka mampu berjuang dengan jiwa raga. Harta dan kehormatan dikorbankan untuk kemerdekaan negeri ini.

Kita sangat bisa menjadi bangsa kuat dan mandiri. Menjadi pelopor dan pahlawan dunia yang disegani baik kawan maupun lawan. Oleh karena bangsa ini telah sukses melahirkan pahlawan heroik. Bahwa raihan predikat pahlawan itu tetap menjadi peluang bagi putra dan putri bangsa termasuk saya kamu dan kita semuanya.

Bahwa Pilpres hanyalah rumah demokrasi untuk menentukan pemimpin bangsa yang akan berdiri bersama rakyat untuk membangun negeri. Dan ruh (semangat) dari self determination baik rakyat dan pemimpinnya itu sangat menentukan arah pembangunan negeri ini.

Nusantara indah dengan hiasan pantai cantik menawan hati bagi setiap pandangan mata. Nusantara dengan gugusan pulau cantik yang dapat memikat hati insan dunia. Semoga saja gugusan dari pulau-pulau indah ini berubah menjadi untaian kalung-kalung permata zamrud di katulistiwa, membahana di alam bebas dan membuat simpati bagi umat dunia.

Sebagai pelipur lara dan dapat menghibur kita semua dari setiap irisan sejarah, tangisan dan iring-iringan perjuangan. Menjadi oase dan mutiara indah di padang pasir dalam catatan sejarah anak cucu dan generasi abad terakhir. Juga untuk episode dan peralihan kebangkitan sejarah dan peradaban juga super power baru. Semoga. **

*)Penulis adalah Sekjend SNKB, Pegiat Literasi Dan Aktifvis Sosial Kemanusiaan Pedalaman. 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *