banner 728x250
OPINI  

Mengapa Saya Menolak Hohn Ricard Banua Jidlid II ?

Ismail Asso
banner 120x600
banner 468x60

Oleh : Ismail Asso

SAYA TIDAK SAJA menolak tapi sangat menolak tampilnya John Robert Banua kembali sebagai kandidat Bupati Jayawijaya untuk masa periode 2024-2029. Karena selama lima tahunmenjadi Bupati Jayawijaya dia sama sekali tidak ada prestasi sama sekali.

banner 325x300

Kota Wamena Kabupaten Jayawijaya menjadi kota paling tidak aman di Papua untuk hidup nyaman. Kerusuhan-demi kerusahan, pembunuhan, pembacokan, penjabretan, permainan togel, penjualan miras, pemakan pinang dan penyakit sosial semakin menambah wajah Kota Wamena bagai Api Neraka.

Pembanguan sama sekali tidak nampak. Perampokan uang rakyat Bupati dan kroni-kroninya menyisakan rakyat Lembah Asli Balim Asli miskin papa tak berdaya hanya setia jadi penonton. Pembanguan despotisme orang dari luar datang menguasai semua sendi kehidupan rakyat Pribumi Lembah dibiarkan hanya jadi penonton bodoh.

Kalaupun mau disebut ada keberhasilan maka keberhasilan John Ricard Banua hanya berprestasi membawa kehancuran rakyat Jayawijaya dalam segela bidang pembangunan tak terkatakan malah menghina rakyat dibuat jadi miskin diatas Kampung halaman mereka sendiri. Hampir tidak ada yang dia bangun selama lima tahun dia pimpin Jayawijaya entah Jalan dari Desa ke Desa, dari Kecamatan ke Desa dan Kecamatan Kekota apalagi Jembatan, Pasar, Gedung dan sebagainya.

Tampak dimana-mana terlihat bahwa Bupati John Banua sama sekali tidak mampu alias gagal total membangun Jayawijaya dalam berbagai aspek pembangunan Banua gagal total. Karena itu saya sangat keberatan jika ada pihak mengusung kembali maju jilid II karena saya sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa John Banua selama masa kepemimpinan 5 lima tahun bukan saja gagal membangun Jayawijaya tapi membawa kehancuran luar biasa sangat hancur dan paling rusak dimana-mana selama masa kepemimpinan John Banua.

“John Ricard Banua (JRB) Jilid II Sama Artinya Kerusuhan Berjilid-Jilid di Kota Wamen Kabupaten Jayawijaya Papua. Membiarkan JRB jilid II berarti membiarkan Jayawijaya Rusuh dan Rusuh Terus Tambah rusak tanpa Perubahan dan perbaikan ,malah lebih hancur lagi.”

Saya tidak mungkin seharusnya melarang karena secara alamiah (natural law), pembawaan alami, setiap jiwa manusia pada hakekatnya bebas merdeka dalam arti sesungguhnya. Itu kebebasan otonom secara individual. Namun jika dibiarkan tampilnya sosok calon perusak akan merusak seluruh tatanan kehidupan rakyar kelak kedepan dangat berbahaya jika dibiarkan.

Berbeda dengan kebebasan individual, manusia sebagai mahluk sosial (zoon politicon), kebebasan otonom individual dibatasi kebebasan individu lain sesama manusia, sebagai sesama mahkluk sosial.

Jangankan sesama manusia berakal, terhadap hewan pun yang hanya punya naluri wajib kita hargai kebebasannya. Karena kebebasan alami hak hidup hewan atau binatang membatasi kita berbuat semena-mena.

Kita tidak berhak membatasi atau melanggar hak hidup bebas binatang, hak tumbuh bebas tumbuh-tumbuhan, kita wajib hormati, tidak merusak hak hidup tumbuh-tumbuhan.
John Banua Bebas

Siapapun boleh karena itu hak, dan berhak dicalonkan dan mencalonkan diri menjadi apapun, selama itu didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sesuai jaminan konstitusi negara (Pancasila & UUD 45) menjamin akan hal itu.

Jadi sesuai konstitusi negara menjamin siapapun individu bebas memilih dan dipilih sesuai (aturan) proses dan prosedur negara tapi jika tak sesuai dalam arti melanggar hak kebebasan otonom orang lain maka pada hakekatnya melanggar konstitusi negara rakyat jadi korban.

Orientasi utama menjadi pemimpin vocus utamanya rakyat. Itulah sebabnya kedaulatan negara (wilayah) ada ditangan rakyat dalam hal ini rakyat Jayawijaya.
Tapi mengakali (merampok kedaulatan) rakyat dengan cara politik machiavelli (menghalalkan segala cara) untuk memenuhi ambisi (syahwat) politik,seperti perilaku John Robert Banua itu berbahaya dan buruk dampaknya bagi rakyat terbukti saat ini kerusahan penjabretan pembunahn pembacokan dimana-mana.

JRB Jilid II

Himbauan moral (fatsun politice), sebagai saran karena menangkap signal, bahwa sejatinya JRB Jilid II, dalam bahasa lain dari kerusahan Jilid-Jilid sudah terjadi. Rakyat Jayawijaya tidak dibangun melainkan dikorbankan melalui kerusahan kerusakan berjilid-jilid.

Team Sukses (Timses) JRB Jilid II, jika tetap ngotot pada pendiriannya, itu sama artinya melanggar hak otonom rakyat Jayawijaya bebas memilih diri sendiri dan menentukan arah kebijakan pembangunan daerahnya. Dampaknya Kerusuhan Jayawijaya berjilid-jilid.

JRB Jilid II hanya akan melahirkan (mereproduksi) kerusuhan jilid I, Kerusuhan Jilid II, Kerusahan Jilid III, dan memelihara terus terjadinya kerusahan demi kerusuhan sebagai akibat ambisi memaksakan diri maju jilid II.

Memaksakan diri maju jilid II, JRB, sama artinya mematikan serangkaian proses politik, proses demokrasi, memanfaatkan dan memakai uang rakyat, suara rakyat Jayawijaya dibungkam, demokrasi dimatikan, pelanggaran HAM berlanjut, kesejahteraan rakyat dan pembangunan Jayawijaya akhirnya tergadaikan.

Inilah yang sesungguhnya ingin saya cegah sebelum Jayawijaya semakin hancur lebur semakin tambah rusak. Untuk itu saya menyarankan beliau (John Ricard Banua) agar tak lagi ngotot, memaksakan diri maju jilid II, agar Putra Daerah Jayawijaya diberi peluang untuk pimpin Daerah ini dan mempimpin masyarakat daerahnya sendiri, serta memajukan kehidupan ekonomi, kesejahteraan sosial masyarakatnya sesuai tatanan sistem adat budaya Lembah Baliem.

Himbauan dan saran saya sebagai Tokoh Jayawijaya bukanlah persoalan pribadi karena unsur like-dislike, (suka-tak suka), melainkan ini sepenuhnya tanggungjawab moral, bagi kemaslahan kepentingan umum, kepentingan rakyat Jayawijaya secara holistik (menyeluruh).

Sekali lagi Penolakan saya terhadap John Ricard Banua bukan soal suka-tak suka, kenal tak kenal tapi soal kerusuhan dan korban nyawa rakyat akibat beliau harus ngotot tetap mau maju melanjutkan jilid II berdampak kerusuhan dan pertumpahan darah rakyat kecil yang seharusnya bebas aman damai hidup sejahtera.

Selama Banua jadi Bupati atau beli suara dengan memborong seluruh Partai Politik (Parpol) maju Bupati di Jayawijaya dengan lawan Kotak Kosong, sejak proses awal melalui kerusuhan dan pertumpahan darah. Kita semua tahu ini dan belum pikun lupa soal ini.

Kedua, Pasca Pilpres Kerusahan melanda seluruh Kota Jayawijaya, banyak korban jiwa dan harta, gelombang pengungsi orang pendatang (urban) dengan akibat meluluhlantahkan seluruh bangunan gedung-gedung kantor pemerintah termasuk Kantor Bupati Jayawijaya ludes dibakar massa.

Dan sampai saat ini belum dibangun, menyusul kerusuhan beberapa waktu lalu akibat isu Penculikan anak, tentu akan demikian semua kios-kios dan toko-toko milik warga pendatang dibakar massa dan menelan belasan korban nyawa warga sipil oleh aparat gabungan TNI / POLRI.

Oleh sebab itu saran dan himbauan saya sifatnya fatsun politik (adab politik) agar yang bersangkutan (John Ricard Banua) batasi diri, tahu diri termasuk Team Sukses (Timses) yang mendukung harus tahu batas, untuk tahan diri dari syahwat (ambisi) politik tidak pada tempatnya.

Pertanyaan singkat saya Team JRB yang memaksakan diri, mau memajukan John Banua sebagai Bupati Jayawijaya, tujuannya untuk apa? Pertanyaan ini harus Anda jawab dengan jujur agar tahu diri agar tahan diri tahu batas dari ambisi kebodohan.

Menjadi pemimpin itu harus punya visi misi, orientasinya harus jelas bagi rakyat yang mau dipimpin bukan mencari uang dan kekayaan pribadi semata malainkan harus punya tanggunjawab memajukan kesejahteraan rakyat secara umum.

Kalau mencari kekayaan silahkan jadi pengusaha, dengan cara yang benar dan jalan yang halal secara profesional.

Negara Indonesia ber-ideologi Pancasila bukan Komunis sehingga seluruh asset dan kekayaan dikuasai negara untuk dibagi rata kepada rakyat oleh negara.
Ideologi negara Pancasila menjamin karena itu warga negara dijamin boleh kaya, warga negara mencari kekayaan melalui usaha yang halal dan melalui cara-cara yang dihalalkan dan benar.

Ini yang saya menolak dan menyarankan beliau (John Ricard Banua) agar tak lagi memaksakan diri maju jilid II agar Putra Daerah Jayawijaya sendiri memimpin daerahnya sesuai semangat Otsus agar secara bebas boleh memajukan perekonomian masyarakatnya sesuai tatanan adat budaya dan tradisi mereka setempat agar belajar maju dan modern aman damai dan sejahtera tentram.

Mengingat dewasa ini orang Jayawijaya masih sangat kental dengan akar (adat budaya) dan belum terlalu siap menerima kepemimpinan sistem despotisme kecuali seperti kota besar dan majemuk macam kota jayapura dan kota lain.

Kecuali beliau mampu dan berhasil selama lima tahun pertama bangun rakyat Jayawijaya saya bisa “Angkat Topi” dan akan dukung beliau 100% untuk lima (5) tahun kedepan Jilid II. Tapi Kota Wamena Kabupaten Jayawijaya selama John Banua pimpin hasilnya porak-poranda (rusak) bahkan tapi pembangunan jayawijaya malah tambah rusak dan hancur, makanya jadi bupati harus punya visi misi bukan bertujuan merampok uang rakyat.

Kenapa Saya Menolak?

Karena selama ini saya ikuti semua kepala suku, lembaga masyarakat adat kepala 40 Distrik Jayawijaya, hamba Tuhan (Pendeta) diam dibuat bisu, terpaksa saya, sebagai Ustadz (tapi bukan Haji) harus turun tangan membela kebenaran dan hak-hak rakyat Jayawijaya, macam Kaka Pendeta Saul Elopere yang seharusnya berdiri tegak lurus membela hak-hak hidup aman damai dan sejahtera dalam naungan Tuhan tapi semua diam jadi terpaksa Ustadz bicara.**

*) Ismail Asso, Warga Penonton Pembangunan Jayawijaya

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *