banner 728x250

Maju dari Dapil NTT 1, Roy Rening Komitmen Perjuangkan Kaum Tertindas dan Terpinggirkan

Dr. Stefanus Roy Rening,S.H.,M.H, Bakal Calon DPR RI dari Partai Perindo,Dapil NTT 1 : Alor-Lembata-Flores
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, SINERGISATU.COM – Advokat senior, Dr. Stefanus Roy Rening, SH, MH, memutuskan untuk kembali terlibat dalam dunia politik. Setelah sempat vakum selama 15 tahun,Roy Rening melabuhkan pilihan ke Partai Perindo, dan berjuang menjadi Caleg Dapil I Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk dapil Flores, Lembata, dan Alor dalam Pemilu 2024.

Kepada wartawan, Roy mengatakan, dirinya berjuang untuk memajukan kesejahteraan bagi masyarakat NTT, khususnya Dapil NTT I yang meliputi 10 Kabupaten : Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Nage Keo, Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur.

banner 325x300

“Saya melihat NTT itu dari semua wilayah di Indonesia, masih masuk dalam wilayah tertinggal, termasuk daerah termiskin ketiga di Indonesia. Atas dasar itu, saya melihat perlu ada penggerak untuk memajukan ketiga daerah di NTT tersebut.,” ujarnya.

“Konsen saya juga memberikan perlindungan hukum terhadap orang tertindas dan terpinggirkan. Sebagai mantan aktivis sejak muda (mahasiswa), selalu ada spirit yang menggerakan, merasa terpanggil untuk harus tetap peduli dalam ‘tugas suci’ membangun ‘bonum commune’  bagi masyarakat bangsa,” tukas Roy dalam konferensi pers di Kantornya, Kawasan Menteng,Jakarta Pusat,Rabu (1/3/2023).

Dr. Stefanus Roy Rening,SH.MH (tengah) didampingi Mikael Kleden (kanan) dan Franky Lewang (kanan) saat gelar konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/3/2023)

Dunia politik sendiri bukan barang baru untuk advokat senior ini. Pada awal reformasi, Roy terlibat sebagai Deklarator berdirinya Partai Katolik Demokrat (PKD) dan sebagai peserta pada Pemilu 1999, lalu mengambil estafet kepemimpinan sebagai Ketua Umum DPP PKD pada tahun 2002, setelah terjadi kevakuman Ketua Umum.

Menyiasati ketentuan peraturan per-UU-an pada saat itu, Roy bekerjasama dengan aktivis politik Kristen membangun koalisi partai berbasis Katolik dan Kristen membentuk Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI). Roy terpilih sebagai Ketua Umum DPP PKDI (Dewan Pimpinan Pusat Partai Kasih Demokrasi Indonesia) dan mengantar PKDI sebagai peserta pemilu pada Pemilu 2009.

Dan memasuki Pemilu 2024, Roy memutuskan untuk kembali terlibat dalam partai politik. “Mencermati dan mengikuti serta berusaha memahami latar belakang, visi dan misi partai politik, Partai Perindo menjadi pilihan pas sesuai spirit perjuangan yang selama ini dihidupi. Keadilan dan kesejahteran sebagai elemen utama persatuan nasional adalah visi dan misi yang menghidupkan semangat untuk ikut peduli dan terlibat mengabdi di dalamnya. Dan pada Pemilu 2024 ini ditempatkan sebagai salah satu Pengurus DPP Partai Perindo dan Caleg dari Dapil 1 NTT untuk Flores, Lembata, Alor,” kata Roy.

Menurut Roy, setelah 20-an tahun reformasi, memang sudah banyak kemajuan tercapai di berbagai bidang kehidupan, namun di sana-sini masih terdapat ancaman dan tantangan yang harus dijawab. “Masih ada banyak keprihatinan dan rasa kecewa. Demokratisasi dan kebebasan sebagai slogan utama reformasi, tapi masih terungkap adanya penyusupan ideologi transnasional yang mengoyak nilainilai luhur kebangsaan Indonesia.

Bersama Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo,

Artinya, rasa kebangsaan dan persatuan nasional masih tetap menjadi soal yang rawan. Untuk itu, semua warga negara yang peduli harus terlibat sebagai penyambung lidah dari ”voice of the voiceless “tukas Roy.

Ditambahkannya, pihaknya banyak menyaksikan jabatan negara dipakai hanya untuk pamer kemewahan dan eksistensi diri, meninggalkan harapan dan jeritan rakyat yang lemah miskin.

“Fungsi-fungsi utama lembaga negara dalam banyak kasus hanya dipakai demi kepentingan pribadi dan golongan. Rakyat kebanyakan tetap terpinggirkan dan hak-hak dasar mereka sebagai warga negara terabaikan dalam kebijakan negara,”tukas Roy. Karena itu, mengambil posisi dan peran ini, pihaknya ingin menjawab mengapa harus kembali terlibat. Proses politik lewat pemilu bukan sekedar memilih wakil rakyat dan memilih pemimpin negara/daerah, tetapi lebih dari itu untuk menghindari orang-orang rakus dan jahat berkuasa. Jika orang-orang baik diam dan tidak terlibat, orang jahat yang terorganisir yang akan memimpin negara,” tutup Roy. ** Domi Lewuk.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *