banner 728x250

Legislator Aceh,Hafisz Tohir : Dana Otsus Belum Mampu Merubah Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Aceh, BPS Ungkap Ini

Kondisi Gubuk Reot yang ditempati Linda bersama suami dan anaknya di Desa Paya Seumntok, Aceh Jaya. Foto: Mahasiswa Magang PWI Aceh Jaya. https://www.ajnn.net/news/kisah-pilu-warga-miskin-di-aceh-jaya-5-tahun-tinggal-digubuk-reot-tengah-sawah/index.html.)
banner 120x600
banner 468x60

SINERGISATU.COM-Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir menilai dana Otonomi Khusus (Otsus) belum menunjukkan signifikansi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Aceh. Di sisi lain, Indonesia bersama pemimpin dunia lainnya, telah menyepakati rencana aksi global melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) berisi 17 tujuan dari 169 target yang diharapkan tercapai pada 2030 mendatang.

Di antara target SDGs tersebut adalah menghapus kemiskinan, mengakhiri kelaparan, dan mengurangi ketimpangan.

banner 325x300

“Sehingga, saya kira perlu suatu kajian yang lebih mendalam supaya Aceh ini bisa diberikan perhatian sebagaimana mestinya. Artinya dari sisi pendidikan, kesehatan, dari sisi lain apakah kita hanya cukup sampai di (istilah) Otsus itu saja. Karena efektivitas (dana Otsus) itu sejauh ini tidak menggambarkan yang cukup signifikan,” urai Hafisz saat mengikuti Kunjungan Kerja BKSAP SDG’s Day bertema ‘Optimalisasi Peran Diplomasi Parlemen Melalui Pendidikan dan Pertukaran Budaya’ di Banda Aceh, Aceh, Selasa (29/3/2022).

Adapun informasi dari situs Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, pemanfaatan Dana Otsus Provinsi Aceh sejauh ini ditunjukkan untuk pembiayaan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, sosial, dan kesehatan. Adapun jumlah Dana Otsus Aceh untuk Tahun Anggaran 2022 telah disepakati sebesar Rp7,5 triliun.

Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir saat mengikuti Kunjungan Kerja BKSAP SDG’s Day bertema ‘Optimalisasi Peran Diplomasi Parlemen Melalui Pendidikan dan Pertukaran Budaya’ di Banda Aceh, Aceh, Selasa (29/3/2022). Foto : Ridwan/mr

Padahal, lanjut politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu, jika dana otsus Aceh tersebut optimal untuk pembangunan infrastruktur, maka sekaligus akan dapat menekan angka kriminalitas remaja yang disebabkan karena kecanduan game online. Pendekatan infrastruktur ini juga akan berdampak signifikan pula bagi keterbukaan akses pendidikan dan kesejahteraan masyarakat Aceh.

“Karena dari infrastruktur tersebut hasil bumi bisa diangkut. Dengan infrastruktur tersebut kegiatan lebih cepat, juga ketimpangan yang terjadi di daerah akan bisa teratasi, sehingga angka kriminalitas bisa terkontrol,” tutup Anggota Komisi XI DPR RI tersebut.

Masuk 5 Provinsi Miskin di Indonesia?

Pernyataan Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir ada benarnya. Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2021 lalu merilis penduduk miskin di Aceh naik menjadi 15,53 persen.

Adapun, kenaikan ini membuat Tanah Rencong bertahan sebagai daerah termiskin di Sumatera dan masuk lima provinsi miskin di Indonesia.

Dilansir detiknes Rabu 2 Frebuari 2022, Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Aceh Dadan Supriadi mengatakan jumlah penduduk miskin periode Maret-September 2021 secara persentase naik 0,20 poin menjadi 15,53 persen. Secara angka, penduduk miskin bertambah 16.020 orang.

“Jumlah penduduk miskin di Aceh pada September 2021 sebanyak 850.260 orang,” kata Dadan dalam konferensi pers virtual, Rabu (2/2/2022).

Diuraikan Dadan, bahwa mengatakan disparitas kemiskinan perkotaan dan pedesaan semakin berkurang. Penduduk miskin di perkotaan berjumlah 10,58 persen dan di desa 18,04 % (persen).

Dia mengatakan ada sejumlah faktor yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan, di antaranya beras dan rokok.

“Kalau kita lihat untuk komoditas makanan, di perkotaan beras menunjukkan pengaruh paling besar terhadap garis kemiskinan, yaitu 18,72 persen. Kemudian di pedesaan lebih besar lagi, yakni 23,06 persen,” kata Dadan.

“Rokok juga masih memberikan pengaruh tertinggi. Harapannya, masyarakat bisa mulai beralih menggunakan pengeluaran dari rokok untuk kepentingan pengeluaran lain yang lebih produktif,” lanjut Dadan.

“Hal ini tecermin dari laju pertumbuhan ekonomi pertanian, kehutanan, dan perikanan pada triwulan III masih terkontraksi baik secara q to q (-0,11%) secara y on y (-3,25%) maupun laju pertumbuhan triwulan I-III 2021 terhadap triwulan I sd III 2020 c to c (-1,90%),” kata Dadan.

Kondisi Gubuk Reot yang ditempati Linda bersama suami dan anaknya di Desa Paya Seumntok, Aceh Jaya. Foto: Mahasiswa Magang PWI Aceh Jaya. https://www.ajnn.net/news/kisah-pilu-warga-miskin-di-aceh-jaya-5-tahun-tinggal-digubuk-reot-tengah-sawah/index.html.)

Data profil kemiskinan dirilis BPS Pusat, Aceh masih bertengger sebagai daerah termiskin di Sumatera. Kenaikan itu juga menjadikan Aceh masuk lima provinsi miskin di Indonesia.

Berikut daerah miskin di Sumatera:
– Aceh 15,53%
– Bengkulu 14,43%
– Sumatera Selatan 12,79%
– Lampung 11,67%

Lima provinsi miskin di Indonesia antara lain:
– Papua 27,38%
– Papua Barat 21,82%
– Nusa Tenggara Timur 20,44%
– Maluku 16,30%
– Aceh 15,53%.

Sementara itu, laman website Aceh Journal National Network yang diposting 12 Frebuari 2022 pukul 11:33 WIB oleh pemilik nama suar, menampilkan berita : Kisah Pilu Warga Miskin di Aceh Jaya,5 Tahun Tinggal di Gubuk Reot Tengah Sawah (https://www.ajnn.net/news/kisah-pilu-warga-miskin-di-aceh-jaya-5-tahun-tinggal-digubuk-reot-tengah-sawah/index.html.).

Di Aceh Jaya, seperti yang dialami oleh Linda Mardiana (35). Kondisi memprihatinkan dialami pasangan suami istri warga Desa Paya Seumantok, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya Karmadi (45) dan istrinya Linda Mardiana (35) yang mempunyai seorang anak laki-laki berumur 8 tahun.

Pasalnya, dari pengakuan Linda Mardiana, mereka sudah hampir lima tahun tinggal di gubuk reyot yang hanya berukuran 3×2 meter di tengah sawah desa tersebut.

“Sudah hampir lima tahun saya bersama suami, dan anak kami tinggal disini, saya lalui dengan sabar karena keterbatasan ekonomi. Dulu, saya tinggal bersama orang tua kemudian pindah ke sini karena ajakan suami setelah melahirkan,” kata Linda, dikutip dari laman berita www.ajnn.net,Sabtu (12/2). **

Editor : tim redaksi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *