banner 728x250

In Memoriam Pater Alex Beding, SVD, Seindah Cahaya Kunang-Kunang

Pater Alex Beding,SVD, saat merayakan 70 tahun pesta Imamat atau Hidup Membiara (ist)
banner 120x600
banner 468x60

OLeh : Dion DB Putra

Banyak orang suka pada kunang-kunang karena cahayanya. Ilmu pengetahuan seperti kunang-kunang. Ilmu pengetahuan merupakan cahaya yang memberikan pengetahuan kepada manusia, terutama anak-anak.”

banner 325x300

Demikian Pater Alex Beding, SVD menulis alasannya mendirikan majalah Kunang-Kunang yang terbit di Kota Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur tahun 1973.

Majalah bulanan anak-anak itu bertahan hidup lebih dari 40 tahun dan eksistensinya sungguh menjadi cahaya pengetahuan bagi anak-anak di zamannya.

Alex Beding memang identik dengan Majalah Dian dan Kunang-Kunang.

Mengusung motto padat berisi “Membangun Manusia Pembangun”, majalah Dian terbit perdana di Kota Ende 24 Oktober 1973.

Hari itu bertepatan dengan Alex Beding merayakan ulang tahun imamatnya yang ke-22. Alex Beding ditahbiskan menjadi imam sulung asal Pulau Lembata di Gereja Paroki Nita, Kabupaten Sikka, 24 Oktober 1951.

Empat belas tahun setia melayani pembaca di berbagai pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam bentuk majalah bulanan, tahun 1987 atau tiga tahun setelah Alex Beding melepas jabatan Pemimpin Umum Dian dan Kunang-Kunang, majalah Dian berubah. Jadi Surat Kabar Mingguan Dian.

Saat Harian Flores Pos terbit tahun 1999, Dian bergeser menjadi semacam edisi hari Minggu dari Harian Flores Pos. Tahun 2006, Mingguan Dian tidak lagi mengunjungi pembacanya.

Zaman memang berubah. Disrupsi, kata orang sekarang. Tapi peran Dian dan Kunang-Kunang sebagai pioner media massa di bumi Flobamora sungguh tak terbantah.

Selama lebih dari tiga dekade keberadaannya, Majalah Dian telah menjadi dian, lilin dan suluh bagi masyarakat NTT melalui karya jurnalistik bermutu.

Fakta ini tidak bisa dan tidak patut ditampik siapa pun. Tak sedikit putra-putri NTT yang memilih jalan hidup sebagai wartawan atau penulis di negeri ini, pertama kali mendapat ruang ekspresi dan ruang belajar menulis melalui Majalah Dian dan Majalah Kunang-Kunang.

Sebelum mendirikan dan membesarkan Majalah Dian dan Kunang-Kunang, Pater Alex Beding mendirikan Penerbit Nusa Indah di Kota Ende tahun 1970. Beliau menjadi direkturnya selama 14 tahun (1970-1984).

Pada masa kepemimpinannya, Penerbit Nusa Indah dikenal luas tidak hanya di Flores, Lembata dan Nusa Tenggara Timur tetapi seluruh Indonesia bahkan mancanegara. Nusa Indah kala itu merupakan satu-satunya penerbit terkemuka di kawasan Timur Indonesia.

Kantor Penerbit Nusa Indah sampai tahun 2022 ini masih berdiri anggun di Jalan El Tari, Kota Ende.

Kehadiran Penerbit Nusa Indah tahun 1970 mendorong masyarakat NTT memasuki babak baru dalam peradaban, merajut tradisi membaca, menghasilkan karya-karya intelektual yang awet hingga kapanpun.

Penerbit Nusa Indah membuat Pulau Flores, Lembata dan NTT bukanlah yang terkecil dan terkebelakang di antara gunung-gemunung Nusantara.

Peran mencerdaskan bangsa sesuai amanat Undang Undang Dasar 1945 tak sekadar berpendar tapi bersinar terang dari Ende, dari Nusa Bunga, nama manis lain Flores island. ****

Atas jasanya merintis penerbitan buku lewat Nusa Indah, majalah Dian dan Kunang-Kunang serta aneka karya tulis baik dalam bentuk buku maupun artikel di media massa terbitan dalam dan luar negeri, Alex Beding layak dikenang sebagai tokoh pers terkemuka di Provinsi NTT.

Ketika mendapat amanah memimpin organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi NTT, saya, pengurus serta semua anggota PWI sepakat memberi penghargaan kepada beliau.

Pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tingkat Provinsi NTT tahun 2009, PWI Cabang NTT memberikan piagam penghargaan untuk Alex Beding, SVD secara pribadi dan kepada Percetakan Arnoldus Nusa Indah Ende secara institusi.

“Award itu diberikan oleh Ketua PWI Cabang NTT, Dion DB Putra pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-63 bertempat di Sekretariat PWI NTT di Kupang, Sabtu (28/2/2009),” demikian berita Harian Flores Pos edisi Senin, 2 Maret 2009 halaman 13.

Atas usul saya sebagai ketua PWI juga pada tahun 2011 ketika NTT dipercaya sebagai tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) yang diikuti ribuan delegasi dari seluruh Indonesia termasuk Presiden Susilo Bambang Yuhdoyono, Alex Beding mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi NTT berupa cincin emas kelas II.

Penghargaan tersebut diserahkan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya pada acara jamuan makan malam dengan seluruh peserta HPN di Restoran Teluk Kupang, Selasa (8/2/2011). Pater Charles Beraf, SVD mewakili Pater Alex Beding menerima penghargaan tersebut.

Selain Pater Alex Beding, SVD, Gubernur Lebu Raya pun menyerahkan penghargaan kepada sembilan wartawan lainnya. Mereka adalah Valens Goa Doy, Julius R Siyaramamual, Peter A Rohi, Aco Manafe, Gerson Poyk, Rikard Bagun, Laurens Tato, Frans Padak Demon dan Primus Dorimulu (Harian Pos Kupang, 9 Februari 2011 halaman 1).

“Pater Alex merima penghargaan ini, bukan hanya karena dia mulai mengelola DIAN pada tahun 1973, tetapi dan terlebih karena jiwa dan semangat kerja keras dan usaha kreatif dalam mengelola majalah pertama di NTT tersebut. Dia tidak sekadar memulai dan mempertahankan majalah dalam jangka waktu yang lama. Lebih dari itu, di tengah keterbatasan saat itu, dia berusaha keras dengan kreativitas, keyakinan dan cinta untuk menghadirkan kepada warga dan umat bahan bacaan bermutu.”

Demikian catatan Dr. Paul Budi Kleden, SVD dalam buku “Bersyukur dan Berharap, Kenangan 60 Tahun Imamat Alex Beding, SVD” (Ledalero 2011, hal 101-102).

Paul Budi Kleden saat ini menjabat superior general SVD yang berkedudukan di Roma, Italia.

Menurut Paul Budi Kleden, Pater Alex Beding mempunyai bakat dan perhatian besar terhadap kerasulan media massa.

Bakat ini dikembangkan dan menemukan ekspresinya dalam berbagai bentuk, seperti majalah Dian dan Kunang-Kunang serta berbagai buku yang ditulis atau diterjemahkannya.

Usaha penerjemahan dan penerbitan ini masih terus dilanjutkannya dalam usianya yang mendekati angka 90 tahun (hal 102). ***

Siapakah Alex Beding? Alex berasal dari keluarga sederhana di Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lamalera kiranya tidak asing bagi dunia. Itulah desa para nelayan tangguh penangkap ikan paus di Laut Sawu.

Alam Lamalera terkesan kikir dan miskin tetapi di sinilah kehidupan berdenyut dengan indah.

Alex Beding lahir di Lamalera 13 Januari 1924 sebagai putra sulung dari sebelas bersaudara buah cinta pasangan Karolus Arkian Beding dan Anna Nogo Lamanudeg.

Seorang kembar pria sesudah Alex meninggal. Selain Pater Alex, masih ada Marcel Beding (22 November 1932, meninggal 24 Februari 1998).

Marcel Beding merupakan wartawan perintis Harian Kompas (Kompas Gramedia). Marcel mengabdi di Harian Kompas hingga pensiun.

Saudara Pater Alex lainnya adalah Fransiskus Meli Beding (lahir 2 Desember 1938, meninggal 10 Mei 1973), Yohanes Bosko Gesi Beding (27 Januari 1941). Tahbisan imam Pater Bosko Beding 29 Juni 1969.

Pater Bosko Beding adalah juga seorang wartawan. Dia meninggal dunia 16 Juli 1989 akibat kecelakaan lalulintas di Jakarta.

Saudari perempuan Pater Alex, Suster Benedicta CIJ, lahir 5 Juni 1928, meninggal pada tanggal 20 Mei 2011 dalam usia ke-83. Lima puluh tahun lebih dalam kaul kebiaraan.

Karolus Arkian adalah seorang tukang kayu. Dari keluarga sederhana inilah Alex Beding tumbuh dengan iman yang kokoh. Keluarga religius yang tetap sederhana.

Seperti ditulis Pater Steph Tupeng Witin, SVD (dalam buku Bersyukur dan Berharap, Kenangan 60 Tahun Imamat Alex Beding, SVD), nilai-nilai hidup ini tumbuh dari kenyataan dan konteks Lamalera, sebuah desa nelayan miskin tapi kaya cahaya matahari.

Maka dari Lamalera kemudian “cahaya” itu menerangi seluruh Lembata, bangsa ini bahkan dunia.

Hal tersebut sejalan dengan arti harafiah dari Lamalera yaitu tempat cahaya matahari. (Lama: tempat, ruang, lapangan) dan Lera: matahari.

Dari Lamalera beralas wadas, cahaya itu perlahan menerangi kehidupan.

Kiprah putra Lamalera itu dalam dunia intelektual sungguh tak terkira.

Aneka penghargaan terhadap Alex Beding, baik dari kalangan Gereja, masyarakat maupun pemerintah mencerminkan penghormatan atas karya intelektual yang menerangi peradaban masyarakat di mana saja karya-karya itu berbicara.

Entah di bumi Flores dan Lembata, Nusa Tenggara Timur, maupun di belahan dunia manapun. Karyanya yang seindah cahaya kunang-kunang itu abadi. **

Hari ini sungguh akhir pekan yang sedikit menyesakkan dada. Kabar duka datang dari Kewapante Maumere, tepatnya Rumah Sakit Susteran SSpS.

Pater Alex Beding, SVD, pergi menjelang fajar Sabtu 12 Maret 2022, dalam usia 98 tahun dua bulan. Usia yang panjang, hampir seabad.

Selamat jalan imam, guru, misionaris, penulis dan jurnalis hebat.

Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan

Bukit Kolhua, 12 Maret 2022
Dion DB Putra

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *