banner 728x250

Honai Hareken Dimarginalkan Pemerintah Daerah Sendiri 

banner 120x600
banner 468x60

By Ismail Asso

By Ismail Asso

ADA  ANGGAPAN malah mungkin tuduhan bahwa saya tak menghormati agama, padahal saya masuk MRP Pokja Agama Islam. Tapi malah membela Honai Hareken, yang itu nota bene dianggap musyrik (menduakan Tuhan), padahal Tuhan Maha Esa.

banner 325x300

Benar saya menghormati Honai Hareken atau Tugiken sebagai sebuah nilai sacral (suci) bagi masyarakat Papua khusus Lembah Balik Jayawijaya dan sekitarnya karena Hareken atau Tugiken masih dianut dihayati dan dihormati oleh masyarakat Asli Lembah Balim Jayawijaya.

Saya dianggap Ustadz dan benar saya berlatar belakang pendidikan dari Sekolah Dasar (Madrasah Ibtidaiyyah) sampai Perguruan Tinggi (PT) saya menempuh pendidikan yang sarat dengan nilai-nilai keluhuran agama. Saya mengetahui agama sedikit tapi tidak sedetail orang memahami dan mempelajarinya, saya paham secara garis umum.

Mengapa saya dianggap tidak menghormati agama? Mungkin ada yang berpendapat demikian, padahal saya justeru menghargai agama, maka agama harus dikembalikan kedalam sistem Adat Budaya Papua. Agama sebagai pendatang baru di Tanah Papua wajib menghormati Adat Budaya Asli Papua. Mengapa ? Karena yang punya Tanah dan segala isinya diatas Tanah Papua itu Manusia Papua bukan Agama.

Saya menghormati agama tapi agama bukan satu-satunya nilai kebenaran, kebenaran diluar agama ada kebenaran lain yakni kebenaran ilmu pengetahuan dan Honai Hareken, diluar kebenaran Honai Hareken ada kebenaran agama, selain kebenaran agama dan Honai Hareken juga ada malah kebenaran lebih pasti yakni science dan Tekhnology.

HAREKEN atau TUGI EKEN, betatapun dianggap rendah atau musyrik oleh agama, sebaliknya bagi Adat Budaya Papua yang inti-sentralnya dinamakan HAREKEN atau TUGIKEN di Honai menganggap agama hanya seperangkat nilai bersifat fiksi (meberi harapan hidup) yang itu sejatinya kebohongan dan hanya janji-janji palsu sesudah kematian manusia tanpa kebenran bersifat pasti selain mythos belaka tanpa bukti empirisme dan proses masuk akal.

Masyarakat Papua Pegunungan saat ini selain baru mengenal agama yang diikuti dan dihormati tapi ada selain agama yakni Adat Budaya, Honai Hareken, sebagai landasan berpijak dan berfikir kehidupan manusia Papua merangvang hidup masa lalu masa kini dan masa depan berdasar spirit Honai Kaneke.

Seperti secara panjang lebar dijelaskan ahli Lenguistik sekaligus seorang Pendeta, Profesor Doktor Myron Bromley, bahwa religi lokal Lembah Balim Jayawijaya berorientasi pada masa lalu dan menciptakan masa lalu ke masa depan esok hari. Wagelogowak, Kehadiran, sang Maha Hadir, mungkin semacam Tuhan, sebantiasa adalah figur masa lalu dibelakang melindungi hadir memberi jalan bagi kehidupan baik masa depan seorang manusia.

Alokasi Dana Hibah Pemugaran Honai Kaneke

Sesuai amanat UU Otsus Papua sejatinya pembangunan Papua berlandaskan nilai nilai lokal yakni Adat Budaya. Tapi selama UU Otsus berjalan 20 tahun lebih, sentuhan dan pembangunan dalam arti alokasi DANA hibah bagi pembangunan tak pernah dialokasikan sama sekali, baru -baru Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya turun tangan mebentuk Lembaga Masyarakat Adat (LMA), sejauh ini yang sedikita banyak berperan hanya LMA, yang itu berarti bantuan langsung bersumber dari dan oleh Presiden Jokowidodo, para Bupati sama sekali tidak pernah melihat dan memperhatikan sektor pembangunan rohani religi asli Papua disebut Honai Kaneke.

Soal ini selama ini sangat termarginalkan bahkan ada kecenderungan pejabat mau membumihanguskan nilai nilai sacral warisan leluhur ini, sangat riskan bukan? Back to natur, kembali ke jati diri manusia Papua dan pembangunan secara nasional akan sukses apabila nilai-nilai sejati dihormati negara melalui para pejabat bupati dan Hubernur Papua secara umum.

Pihak pemerintah daerah kurang menyadari soal ini, yang mereka bantu pugar, nilai asing dan baru seperti pembangunan Mesjid dan Gereja padahal yang seharusnya dan diutamakan sesuai amanat UU Otsus Papua yang pertama dan paling utama dibantu idari Uang Otsus adalah pemugaran Honai-Honai Adat yang didalamnya tersimpan HAREKEN dan ada dua macam Honai.

Honai Besar, tempat Klen menyimpan berbagai cerita leluhur dan benda sacral seperti Hareken atau Tugiken, sedangkan Honai Rahasia dari paling Rahasia adalah Honai kecil yang tempatnya rahasia dan sacral keramat tak boleh dilihat org selain kelompok Moety hanya dimiliki Suku Asli, Lembah Balim dan sekitarnya. Inilah inti pusat adat budaya Papua.

Agama sebagai pendatang baru harus menjadi pelengkap budaya Papua bersifat feriferal (pinggiran-pelengkap) budaya Asli kalau mau konsisten dengan UU Otsus Papua saya anjurkan papua pemimpin Papua menghargai Adat Budaya Papua dan melestarikannya.

Karena inti dan pusat adat budaya Papua Pegujungan ada pada HONAI HAREKEN bukan gereja mesjid tapi agama baru dan hanya pelengkap bukan inti budaya papua sebagai HAREKEN sebagai Pusat dan Inti dari Kebudayaan Papua.

Tapi Intinya para Bupati se Paoua Pegunungan harus banyak belajar adat budaya Papua tak semata agama tapi org papua juga punya adat budaya paling dasar sebelum agama perlu dihormati kalau mau suskses. **

*) Penulis adalah Anggota MRP Papua Pegunungan Bidang Pokja Agama Islam

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *