banner 728x250

Harga Kacang Kedelai Impor Melambung, Komisi IV DPR Minta Pemerintah Segera Cari Solusi

Kacang Kedelai Import super buat toge,tempe,susu kedelai (Shopee)
banner 120x600
banner 468x60

SINERGISATU.COM-Pemerintah diminta segera melakukan langkah-langkah tepat dan strategis serta mencari solusinya diantaranya agar segera merealisasikan pembentukan Badan Pangan Nasional. Mengingat,harga bahan baku tahu tempe melambung naik khususnya kedelai impor.

Demikian ditegaskan oleh Anggota Komisi IV DPR RI Slamet merespon naiknya harga bahan baku tahu dan tempe hasil imporan. Sebab, tahu dan tempe ini bukan saja masalah kebutuhan pedagang tapi juga menyangkut kepada rakyat terutama asupan gizi masyarakat yang paling murah hari ini tahu tempe kedelai. Menurut Slamet, akar permasalahannya adalah tidak segera terwujudnya Badan Pangan Nasional.

banner 325x300

“Kalau pemerintah tidak segera intervensi mengelola dengan baik maka masalah ini akan terus berulang dan hal ini bukan yang pertama tapi untuk yang kesekian kalinya,” kata Slamet dalam keterangan persnya kepada awak media di Parlemen,Jakarta belum lama ini.

Anggota Komisi IV DPR RI Slamet (ft: Arief)

“Saya juga heran, masalahnya ada di mana, badan ini belum juga terwujud. Padahal sudah 9 bulan Perpres dikeluarkan Presiden. Apakah Presiden Jokowi perintahnya sudah tidak berpetuah, akhirnya diabaikan oleh anak buahnya? Ini sudah masalah rutin yang terus berulang setiap tahun, harusnya pemerintah tanggap,” tegasnya.

Lanjut Ketua umum Perhimpunan Petani dan Nelayan Seluruh Indonesia (PPNSI) ini , bahwa data Kementerian Pertanian menyebutkan sekitar 86,4 persen kebutuhan kedelai di dalam negeri berasal dari impor. Hingga 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor kedelai sebesar 2,48 juta ton dengan nilai 1 miliar dollar AS.

“Ada beberapa hal yang menyebabkan Indonesia harus mengimpor kedelai. Pertama, produksi dalam negeri yang rendah. Bahan dalam satu dekade terakhir, produksi kedelai nasional cenderung turun dari 907 ribu ton pada 2010 menjadi 424,2 ribu ton pada 2019. Luas lahan panen yang terus menyusut dari 660,8 ribu hektar pada 2010 menjadi 285,3 ribu hektar pada 2019. Hal ini juga dipengaruhi perubahan fungsi lahan ke sektor non-pertanian,” urai wakil rakyat dari daerah pemilihan Jawa Barat IV itu.

Persoalan Kedua, kurang berminatnya produsen tempe terhadap kedelai lokal. Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin mengatakan, kualitas kedelai lokal di bawah produk impor.

“Ketiga, petani menganggap budi daya kedelai tidak menguntungkan. Berdasarkan data BPS, harga produksi kedelai di tingkat petani rata-rata Sebesar Rp8.248 per kg. Namun ketika dijual ke konsumen hanya sekitar Rp10.415 per kg,” tutupnya. ** (Parkini/dep/sf. Editor : dese.)

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *