banner 728x250
OPINI  

Gagalnya Diplomasi Sepak Bola

Peter Lewuk
banner 120x600
banner 468x60

PERISTIWA FIFA membatalkan Indonesia menjadi negara tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2023 membekaskan pegalaman berharga bagi pemerintah, terutama para diplomat dan pelobi Indonesia, untuk melakukan refleksi kritis dan korektif tentang praksis diplomasi dan lobi internasional dalam berbagai hal penting demi citra dan performa diri Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dan bermatabat.

Dalam rangka refleksi dan mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari peristiwa pembatalan tersebut, berikut ini secara singkat saya akan menyoroti tiga fenomena diplomasi berkaitan dengan konflik Israel-Palestina yang tak kunjung selesai-selesai itu. Justru sikap beberapa kalangan dari Indonesia terhadap konflik tersebutlah yang menjadi andil bagi pembatalan oleh FIFA terhadap Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20.

banner 325x300

Diplomasi Sepak Bola

Sesuai dengan kebijakan politik nonblok dan bebas aktif yang dianut Indonesia serta asas FIFA yaitu netralitas dan nondiskriminasi, maka sepak bola dapat menjadi ajang diplomasi “seni peradaban” yang terpisah dari urusan politik. Apalagi Presiden Joko Widodo menegaskan komitmen Indonesia untuk tetap mendukung kemerdekaan Palestina; Namun sayang, kesempatan baik ini dilewatkan begitu saja oleh Indonesia akibat penolakan terhadap Israel oleh kelompok Islam kanan di Indonesia dan oleh Patai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Menurut saya, sepak bola adalah “pentas seni tontonan” yang menarik dan menghibur. Sepak bola adalah seni mempermainkan bola, seni mempermainkan permainan, dan seni mempermainkan pemain di atas rerumputan hijau lapangan sepak bola.

Sepak bola, baik pada laga internasional maupun laga nasional, tidak hanya sebagai “pentas seni tontotnan”, tetapi juga “tanda peradaban bangsa”, baik sebagai negara peserta maupun sebagai negara tuan rumah. Tanda peradaban bangsa yang saya maksudkan adalah kualitas performa kemajuan persepakbolaan yang diperlihatkan oleh sebuah negara ataupun yang diperlihatkan oleh klub-klub bola level dunia maupun level negara nasional.

Selain itu, juga menyangkut kualitas kinerja kelembagaan organisasi sepak bola, profesionalisme manajemen tim sepak bola, kualitas performa individual pemain, dan keserasian irama permainan yang dipertontonkan oleh para pemain di lapangan hijau. Semuanya itu berujung pada performa bisnis dan finansial yang menguntungkan baik bagi klub-klub sepak bola maupun para pemain, serta melahirkan bintang sepak bola dunia, yang mengharumkan nama negara asal sang bintang maupun klubnya. Juga berdampak keuntungan fiskal dan sumber devisa bagi negara tuan rumah.

Sepak bola ternyata telah membangkitkan rasa adab kemanusiaan lintas batas negara, semangat mengidolakan sang bintang dan klubnya, tanpa memandang latar belakang agama, negara, politik, budaya, dan ideologi, Rasa kagum bangkit dari dalam diri pemirsa dan penonton yang “gila bola” di seantero jagat. Membangkitkan pengetahuan dan pengenalan akan kekayaan budaya berbagai bangsa di dunia. Pendek kata, sesungguhnya sepak bola adalah pentas seni tontonan yang menghibur dan menjadi tanda adab kemanusiaan universal dan tanda adab kemajuan performa olah raga suatu negara-bangsa.

Seharusnya Indonesia mencoba memanfaatkan iven Piala Dunia U-20 sebagai momentum untuk memainkan “diplomasi sepak bola” sebagai “seni peradaban”. Meski diplomasi seperti ini hanya situasional sifatnya, namun diharapkan akan berimplikasi simpatik bagi Israel yang telah mengetahui sepak terjang diplomasi politik Indonesia. Namun, apa boleh buat, apa mau dikata?

Sasaran diplomasi sepak bola, meski situasional sifatnya, adalah membuat Israel mengalami Indonesia sebagai bangsa berbudaya, beradab, dan tahu adat dalam menerima dan menjamu para tamu negaranya dalam iven sepak bola bergengsi level dunia. Dengan adab perilaku demikian, justru posisi moral Indonesia (mungkin) akan diacungi jempol oleh Israel, meski Israel tahu bahwa Indonesia sangat memusuhi dan membanei Israel dan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Diplomasi Sepak Bola

Kaca Mata KudaYang mengecewakan adalah penolakan dari PDIP yang memolitisasi sepak bola (jujur saja, tak usah munafik) demi keuntungnan elektoral. Dalam keterangan pers menanggapi pembatalan menjadi tuan rumah oleh FIFA, elite PDIP mencoba membela diri dengan argumentasi konstitusional, historis, dan kemanusiaan yang terkesan dirasionalisasi secara terpaksa, yang logikanya terlalu tinggi untuk dipahami jutaan wong cilik Indonesia pencinta sepak bola.

Meskipun logika tingkat tinggi itu benar, namun tidak relevan bagi wong cilik. Meski hidup susah, wong cilik benar-benar menikmati sepak bola entah dengan berdesak-desakan menonton langsung di stadion atau lewat televise dan android.

Mudah-mudahan wong cilik tidak “menghukum PDIP” di tahun 2024.
Adalah seribu persen benar argumen amanat konstitusional dan argumen historis kemasnusian dari PDIP, antara lain, bahwa “Bung Karno tidak akan mengakui negara Israel sebelum kemerdekaan Palestina. Sampai sekarang prinsip itu dipegang oleh Indonesia”. Namun sayangnya PDIP menggunakan diplomasi kaca mata kuda dalam konteks ini, yaitu “hanya” melihat konteks sejarah geopolitik zaman Bung Karno di masa silam belaka, padahal konteks hitoris sekarang sudah berbeda, sudah berubah, sekarang zaman geopolitik milenial-digital.

Palestina sekarang sudah merdeka sejak 15 November 1988 sebagai sebuah otoritas dengan bendera dan lagu kebangsaannya sendiri yang berkibar dan bergema di iven internasional yang diikuti Palestina dan di forum PBB. Namun, masalah konkret-krusial yang masih dialami Palestina sekarang adalah entitas geopolitik ibu kota negara Palestina dan kekerasan militer Israel, serta solusi dua negara yang belum tuntas. Ini fakta yang tidak mungkin disangkal oleh dunia.

Saya pikir kalau Bung Karno masih hidup sekarang, Beliau akan memainkan diplomasi tingkat tinggi ala Bung Karno yang beda dengan zamannya dulu. Nah sebagai pewaris biologis dan ideologis Bung Karno, PDIP harus mampu memperlihatkan kecerdasan-berdiplomasi, dan tidak ikut-ikutan kelompok lain. Misalnya diplomasi sepak bola itu tadi dengan mendukung Indonesia menjadi tuan rumah yang beradab dan tahu adat.
Diplomasi yang sifatnya situasional memang, namun diharapkan dapat berpengaruh positif pada sikap Israel terhadap Palestina. Sayang, diplomasi sepak bola dirusak oleh diplomasi kaca mata kuda.

Diplomasi Anak Kalimat

Dalam pergaulan internasional betapa kerap kita mendengar ucapan seperti: “Indonesia adalah negara besar”, yang diimbui “anak kalimat”: “dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia”. Mendengar diplomasi anak kalimat seperti itu, mungkin Israel akan mengatakan, misalnya, begini: “Memang benar secara statistik Indonesia adalah negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, tetapi masih sebagai “negara kecil” karena bisanya hanya menjadi penikmat hasil kecerdasan otak sains dan Iptek Israel yang menguasai dunia.
Indonesia mungkin “masih kecil” dalam urusan, misalnya, “kapasitas dan kualitas operasi intelijen virtual/digital” seperti Israel, yang mengkhawatiran negara lain. Israel juga terkenal dengan jago lobi di dunia yang bisa merepotkan negara mana pun yang mencari masaah dengan Israel.

Sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, Indonesia harus mampu membuktikan dirinya “tidak hanya besar omong”, tetapi juga memiliki kecerdasan berdiplomasi yang juga besar alias tinggi pula. Apa dan bagaimanakah itu? Saya pikir para pakar dan diplomat Muslim Indonesia, yang cerdas-cerdas, pasti lebih tahu daripada saya.

Membaca konflik Israel-Palestna secara hitam-putih dengan memakai kaca mata kuda memang tidak bijak dan tidak berhikmat. Melihat Palestina sebagai bangsa yang putih seperti kapas dan salju, dan sebaliknya mencaci-maki Israel sebagai makhluk hitam pekat bak arang bakar atau burung gagak, serta bangsa laknatullah, dan si kafir Zionis-Lucifer Penjajah Palestina, jelas tidak akan menghasilkan apa-apa. Malah sebaliknya bisa berakibat fatal.

Menghadapi Israel yang dinilai “keras kepala” dengan sikap sebaliknya yang juga “keras kepala”, jelas tidak ada manfaatnya sama sekali. Buktiknya, Palestina dan Israel sama-sama keras kepala, sehingga sama-sama menjadi korban kekeraskepalaan mereka. Hanya bedanya dalam hal kualitas dan kuantitas korban penderitaan. Palestina lebih parah dari Israel. Berbagai jurus diplomasi telah dimainkan, baik oleh Indonesia dan negara-negara Islam, maupun oleh negara-negara non-Muslim serta PBB, tetapi toh konflik Israel-Paletina bak jalan tak berujung. Lebih dari itu Indonesia juga akan dicap antisemitisme.

Karma Sejarah

Nah, kalau problem krusialnya adalah soal jajah-menjajah, maka izinkan saya untuk berbeda pendapat dengan debat kusir tak bermutu yang selama ini berlangsung. Yakni bahwa Israel yang dicaci-maki sebagai Penjajah Palestina, juga bisa mengajukan pertanyaan: Siapakah yang menjajah “tanah air Yahudi-Israel” pada abad ketujuh Masehi ketika agama Islam lahir dan untuk pertama kali disebarkan ke Palestina dan Surya kemudian ke seluruh dunia melalui perang dan penaklukan?

Siapakah yang menyerbu dan mengepung Kota Yerusalem, kemudian meduduki kota yang telah dihuni oleh Yahudi dan Kristen sebelum agama Islam lahir pada abad ketujuh Masehi? Bukankah sejarah mencatat bahwa bangsa penjajah dan penakluk Yerusalem itu adalah Arab-Islam? Ini fakta sejarah, sehingga jangan tersinggung dan bersikap ahistoris, lalu marah-marah! Dalam debat kusir di televisi dan medsos, fakta sejarah ini ditutup mati-matian. Ini kemunafikan dan ketidakjujuran historis.

Lantas tidak bolehkah Yahudi-Israel berjuang mengambil kembali haknya atas Eretz Yisrael atau “Tanah Israel” dan kota Yerusalem dengan membeli tanah-tanah yang telah dikuasai bangsa penjajah mereka pada abad ketujuh hingga lahirnya Zionisme, yaitu gerakan Yahudi-Israel kembali dari “pembuangan di zaman Masehi” ke tanah airnya sendiri?

Apa saja yang dilakukan oleh Arab-Islam sebagai bangsa penjajah tanah air Yahudi-Israel sepanjang abad ketujuh Masehi hingga sebelum Israel merdeka pada tahun 1948? Tidur nyenyak sambil mimpi indah bagaimana menghapus Israel dari peta dunia? Kemudian ketika bangun, sirik dan cemburu melihat Yahudi-Israel datang dengan Iptek dan investasi untuk membangun dan memajukan Tanah Kanaan modern itu?

Saya jadi kasihan sama Palestina yang harus memikul “kutuk historis dan karma sejarah” akibat dosa ahistorisme terhadap peristiwa penjajahan Arab-Islam atas Yahudi-Israel pada abad ketujuh Masehi, tetapi ditutup mati-matian dengan kebohongan global, sehingga dunia pun percaya hanya Israellah bangsa penjajah sejak awal dunia dan sejarah. Tidak fair kalau seluruh kesalahan ditimpakan kepada Israel semata, seakan-akan Palestina suci putih bersih seperti salju dan kapas.

Jadi, jangan pelihara kemunafikan dan ketidakjujuran. Ubah paradigma diplomasi demi kedamaian Palestina-Israel. Solusi dua negara hanya akan berhasil apabila terjadi pertobatan dari dosa ahistorisme.

Inilah yang harus diakukan oleh para pengiman Monoteisme-Trinitaris- Abrahamik: Yahudi, Kristen, dan Islam.

Belajarlah dari Gereja Katolik, manakala memasuki milenium ketiga, Paus Yohanes Paulus II atas nama umat katolik seluruh dunia meminta maaf atas dosa-dosa yang telah dilakukan oleh Gereja Katolik terhadap orang Yahudi dan Islam di sejarah masa silam”. Kemudian Gereja Katolik aktif mempromosikan perdamaian dan keadilan dunia berdasarkan martabat kemanusiaan universal.

“Locus Theologicus”

Menurut saya, justru klaim teologis atas kota suci Yerusalem lebih penting bagi Islam, Kristem dan Yahudi daripada klaim politis atas Yerusalem Timur oleh Palestina dan kaum Islam untuk dijadikan sebagai ibu kota negara Palestina merdeka. Karena praktis dan faktual seluruh Yerusalem sudah kembali ke tangan yang berhak yaitu Israel. Palestina dan Israel dituntut memiliki moralitas tinggi dan iman Monoteisme-Trinitaris-Abrahamik yang dalam untuk menegosiasikan Yesusalem Timur sebagai locus theologicus bagi Yahudi, Kristen, dan Islam. Inilah yang saya sebut “diplomasi teologis”.

Satu Tanah Kanaan Modern menjadi dua negara, namun Palestina perlu legowo melepas klaim politis atas Yerusalem Timur dan memilih tempat lain sebagai ibu kota. Ngotot menuntut dua negara dengan membagi Yerusalem menjadi dua ibu kota, akan berhadapan dengan murka YHWH Sang Pemilik sah atas Yerusalem dan sang pemilik hak prerogatif untuk mempercayakan kota itu kepada Israel.

Ibarat Dinas Kependudukan Kota Yerusalem meminta YHWH menunjukkan KTP-Nya, maka dalam kartu itu akan tertulis tempat tinggal YHWH yaitu: Yerusalem. Ini adalah fakta dan data teologis-historis, yang kalau terus-menerus disangkal, maka konflik tak akan selesai. Mengabaikan YHWH dalam penyelesaian konflik Irsael-Palestina hanya akan gagal total.

Apa implikasinya dari pernyataan ini, saya tantang para teolog Yahudi, Kristen, dan Islam untuk merefleksikannya. Jadi, bila Yerusalem Timur menjadi locus theologicus bagi ketiga penganut Monoteisme-Trinitaris-Abrahamik, maka PBB harus mewajibkan Israel untuk memelihara keamanan dan kelestarian situs religius tersebut bagi ketiga bersaudara sepupu iman itu. Menjamin kebebasan bagi Islam, Kristen, dan Yahudi dari seluruh dunia untuk berwisata rohani dan beribadah ke sana. Apalagi Israel juga sedang dalam proses membangun kembali Bait Suci di seputar locus theologicus tersebut, tapi dengan catatan penting yaitu tanpa mengganggu situs religius Islam dan Kristen. *

Penulis adalah cendekiawan Tana Ai, Flores, NTT.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *