banner 728x250
OPINI  

Di Manakah Wajah Kedamaian yang Dibanggakan?

Ilustrasi : sebuah Kedamaian
banner 120x600
banner 468x60

Oleh : Kasianus Nana Seran

Mempertanyakan di mana wajah sebuah tempat, seolah-olah tempat itu sedang bepergian atau sedang berada dalam sebuah ketidakhadiran. Akan tetapi dalam konteks ini, penulis menggedor nurani pemimpin dari berbagai dimensi kehidupan manusia untuk mencermati berbagai peristiwa yang kini dan sedang (hic et nun) terjadi pada bumi pertiwi Nusa Tenggara Timur ini.

banner 325x300

Pembangunan dari berbagai sudut daerah di propinsi NTT makin hari makin maju. Namun, kemajuan infrastruktur ini, tidak didukung dengan peningkatan moralitas pada wajah bumi NTT ini. Pembunuhan, salah satunya ialah menjadi trending topic di daerah NTT. Pembunuhan orang dewasa, pembunuhan terhadap istri, pembunuhan terhadap anak, pembunuhan terhadap kekasih. Aksi pembunuhan dan penganiayaan yang terjadi di bumi NTT yang masih miskin dan menderita ini, bukan hanya mencoreng nama daerah NTT tetapi mencakar muka daerah NTT di hadapan daerah-daerah lain. Mungkin lebih baik tidak beragama dan bermoral. Daripada beragama tetapi tidak bermoral sama sekali.

Sonny Keraf, mantan Mentri Negara Lingkungan Hidup pada Kabinet Persatuan Nasional asal Lembata NTT, mengatakan bahwa moral adalah suatu ukuran untuk mengukur kadar baik buruknya sebuah tindakan manusia sebagai manusia, mungkin sebagai masyarakat (member of society), atau sebagai manusia yang memiliki posisi tertentu atau pekerjaan tertentu. Ungkapan ini, menunjukkan bahwa relasi yang dibangun dalam kehidupan bersama terutama dalam memajukan sebuah pembangunan mesti adanya ukuran yang mesti dipakai sebagai standar. Oleh karena itu, sikap kejujuran, keadilan dan saling menguntungkan (mutual benefit principle) perlu diperhatikan oleh setiap individu; baik sebagai masyarakat maupun sebagai pemimpin yang memangku jabatan di negeri ini.

Hal ini perlu ditegakkan, sebab jikalau tidak maka masyarakat kecil dalam hal ini, kaum pinggiran, suara-suara yang tidak mampu bersuara (voice of the voiceless) tetap hidup dalam penjara ketakutan karena ketidak berdayaan mereka di hadapan orang-orang lain yang mempunyai power. Yang kuat tetap menjadi kuat dan yang lemah tetap harus menanggung penderitaan mereka.

Jikalau kondisi ini masih tetap dan terus berjalan di negeri ini terutama di bumi NTT. Bagaimana respon masyarakat NTT terhadap undang-undang dasar alinea pertama “bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan”.

Undang-undang dasar sebagai landasan, seolah seperti kapal tua yang berlayar begitu lamban dan sangat tak berdaya. Perampasan terhadap hak hidup, penghilangan terhadap nyawa orang lain perlu ditindak dengan hukuman yang setimpal. Selain memberikan hukuman pidana, perlu juga diberikan sanksi moral. Hal ini dimaksudkan berarti perlu adanya penerapan pasal berlapis, dengan maksud memberikan efek jerah terhadap siapapun yang berniat untuk melakukan tindakan kekerasan, terhadap orang lain yang tidak berdaya. Kejahatan apapun itu terlebih khusus pembunuhan harus dihapus.

Jikalau bangsa Indonesia, menerapkan aturan bangsa Yahudi yaitu gigi ganti gigi atau hukum pembalasan (lex talionis), maka tentu tidak terjadinya begitu banyak kecendrungan banyak orang untuk melakukan kekerasan terhadap sesamanya.

Namun, di Indonesia adalah Negara hukum, yang sangat memperhatikan hak-hak setiap warga negaranya. Oleh karena itu, sekalipun seseorang melakukan pelanggaran, kecurangan, bahkan sekalipun menghilangkan nyawa orang lain. Akan tetapi, masih diberi kesempatan untuk melakukan pembelaan dihadapan sidang atau pengadilan. Porsi ini, sangat dihargai, namun menimbulkan kerentanan terhadap para pelaku kejahatan di negeri ini. Contohnya kasus pembunuhan yang terjadi di Malaka dan Maumere.

(https://www.tribunnews.com/regional/2022/05/02/pemuda-di-malaka-ditikam-hingga-tewas-pelaku-tak-terima-adik-perempuannya-ditelantarkan-oleh-korban. https://www.posflores.com/hukum/pr-4413378813/mantan-kades-nele-urung-menikam-kakak-iparnya-sendiri-hingga-meninggal-dunia).

Dua kasus yang dilampirkan pada link di atas, terjadi pada tempat yang berbeda. Namun, penulis ingin menampilkan bahwa kasus-kasus kejahatan dan kebejatan seperti pembunuhan ini mengerucut bagi korban sebagai kaum yang lemah, yang mana mereka tidak berdaya untuk menghindari kebejatan itu. Dan secara relasional, pelaku kejahatan bukan berasal dari orang asing. Melainkan orang-orang yang berkamuflase dalam lingkaran kehidupan bersama.

Oleh karena itu, kepada semua pihak patut mengambil bagian dalam menangani kasus-kasus seperti ini. Perlu adanya tindakan preventif, yaitu cara membuat antisipasi terhadap suatu kondisi yang seringkali terjadi dan mungkin bisa terjadi di waktu yang akan datang. Tindakan ini perlu melibatkan para pemerintah,  pendidik, adat,  agama dan orang tua. Hal ini dimaksudkan agar penanaman karakter yang baik dan berintegritas dalam pertumbuhan seorang individu di tengah maasyarakat bukan hanya tugas dari orang tua. Contoh dari penulis sebagai pengamat dan orang tua, melihat bahwa anak-anak sekolah lebih taat kepada guru di sekolah dibandingkan terhadap orangnya sendiri. maka wajarlah dilibatkan berbagai pihak dalam pertumbuhan seorang individu di tengah masyarakat terutama kebebsan dalam mengambil keputusan.

Kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang di hadapi (diskresi) yang picik bisa menghilangkan nyawa orang lain. Secara intelektual, orang-orang yang melakukan tindakan demikian merupakan manusia yang terpenjara dalam kepicikan cara berpikirnya (logical fallacy). Aristoteles (filsuf Yunani Kuno) mengatakan bahwa manusia adalah makluk rasional (homo rationale). Oleh sebab itu, hendaknya manusia mengunakan daya rasionalnya untuk mencari solusi dalam menyelesaikan persoalan. Persoalan bukan diselesaikan dengan menciptakan persoalan yang baru. Maka selain, faktor-faktor eksternal yang dibutuhkan dalam pembangunan karakter seorang individu, dibutuhkan juga penajaman terhadap suara hati seseorang di tengah masyarakat.

Suara hati (conscience) dari bahasa latin con (dengan) dan scire (tahu) dapat diartikan sebagai kesadaran untuk memilah yang salah dan yang benar. Suara hati para pelaku kejahatan telah padam, sehingga mereka tidak lagi menyadari akan identitas mereka sebagai siapa di hadapan sesamanya sebagai yang lain.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa distorsi moral, depresiasi, pembunuhan, penghilangan nyawa seorang individu di tengah masyarakat disulut oleh berbagai persoalan. Baik secara komunal maupun individual. Oleh karena itu, tindakan yang melanggar hak hidup manusia ini, perlu dan dapat diminimalisir, apabila kerja sama dari berbagai pihak dalam kehidupan ini. Partisipasi dari berbagai dimensi kehidupan ini, membangkitkan kehidupan social dan mengarahkan pribadi manusia sehingga tidak terbelenggu dalam konsep dan logika yang sesat ketika berhadapan dengan sebuah realitas yang sulit. Maka bersama Mahatma Gandhi, pemimpin spiritual dan politikus India yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan India, kita sama-sama satu suara untuk melawan kekerasan tanpa kekerasan yaitu kedamaian.*

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *