banner 728x250

Catatn Simply da Flores Terhadap Sikap Revolusi Paus Fransiskus di Kamis Putis 2024

Simply da Flores
banner 120x600
banner 468x60

SINERGISATU.COM– Paus adalah pemimpin Gereja Katolik sedunia, penerus Tongkat Gembala Santo Petrus. Paus memimpin umat Katholik sesuai dalam ziarah iman kepada Yesus Kristus, bersama para Uskup dan segenap pelayan iman lainnya. Maka, ajaran iman Kristiani berdasarkan Kitab Suci dan tradisi dijaga serta diamalkan di tengah dinamika kehidupan manusia umumnya. Demikian ungkap pemerhati masalah dan budaya asal Flores, NTT.

Pria yang pernah mengeyam pendidikan calon imam misionaris Xaverian provinsi Indonesia ini, bahwa “Tradisi liturgi” pekan suci dalam Gereja Katolik sudah berjalan hingga kini, sebagai wujud penghayatan karya keselamatan Yesus Kristus seperti tertulis dalam Injil. Dalam perayaan Kamis Putih 2024 ini, Paus Fransiskus membuat sebuah “Reformasi dan Revolusi” penghayatan sejarah dalam Injil. Lalu apa itu Reformasi dan Revolusi? Paus Fransiskus Membasuh Kaki Perempuan

banner 325x300

Simply da Flores, demikian ia disapa bahwa, dalam Injil dikisahkan bahwa saat Perjamuan Akhir, Yesus membasuh kaki para muridNya. Inilah dasar Perayaan Kamis Putih. Lalu, tradisi menegaskan bahwa Ekaristi dan Imamat juga dimulai saat itu. Inilah makna iman yang dirayakan selama ini dalam liturgi Gereja setiap Hari Kamis Putih.

Duraikan, pada tahun 2024 ini, Paus membuat sebuah pembaharuan makna. Dia membasuh kaki perempuan, bukan laki-laki seperti para murid di perjamuan akhir seperti dikisahkan dalam Injil.

Paus Fransiskus basu kaki para perempuan di lembaga tahanan Roma -Italia (Vatican media)

“Hemat saya, apa yang dilakukan Paus ini, bukan saja pembaharuan tetapi juga revolusi penghayatan nilai injili. Pesan kasih dan melayani sebagai hamba, bagi seorang pemimpin dan raja, tidak hanya kepada bawahannya, khusus kaum laki-laki. Paus menegaskan keluasan makna pelayanan kasih harus kepada semua kaum, perempuan dan laki-laki, juga anak-anak, teristimewa mereka yang letih lesu dan berbeban berat,” tuturnya dalam tulisannya Sabtu 30 Maret 2024.

Simply pun berefleksi, bahwa mungkin juga, Paus ingin menegaskan soal kesetaraan gender dalam pelayanan Kasih sebagai pengikut Yesus Kristus. Perempuan yang selalu menjadi korban dari budaya patriarkal dilawan oleh Paus dengan pilihan “membasuh kaki perempuan di dalam Perayaan Kamis Putih”.

“Iya, ini satu loncatan revolusi yang luar biasa dilakukan oleh Pemimpin Gereja Katolik Dunia dari Serikat Imam dari Serikat Jesus (SJ) yang menjadi Paus ke-266 terpilih pada 13 Maret 2013,yang juga berasal dari Argentina, Uskupa Agung Bounos Aries,” tulis Simply.

Memilih Napi Perempuan

Simply melanjutkan, bahwa Paus Fransiskus tidak hanya memilih membasuh kaki perempuan, tetapi lebih istimewa lagi, perempuan yang dipilih adalah perempuan yang sedang dipenjara. Mereka sedang menjalani proses hukum. Momen keberadaan para perempuan dalam tahanan itu diharapkan kembali menemukan jati diri mereka.

Paus pasti mempunyai pertimbangan yang khusus dari pilihan itu. Bukan perempuan yang sakit, yang gelandangan, buruh atau lansia. Justru perempuan yang sedang menjadi Nara pidana. Artinya, perempuan Nara pidana itu karena berbagai kasus yang terjadi. Aneka kasus yang mendera perempuan, termasuk sistem hukum yang menjebloskan mereka ke dalam penjara adalah produk laki-laki.

“Jadi, menurut hemat saya, pilihan Paus Fransiskus ini adalah sebuah gugatan peradaban dan revolusi penghayatan Injil. Kesetaraan gender dan keadilan peradaban yang hakiki, harkat manusia yang setara di hadapan Allah, sebagai citra Allah. Manusia diciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi dan melayani dengan kasih sejati. Bukan dominasi laki-laki, bahkan perempuan menjadi korban kebiadaban laki-laki secara sistematis, terstruktur dan masif dari tradisi budaya patriarki.”tegasnya.

Direfklesikanya, bahwa pilihan Paus ini pun kiranya menjadi otokritik dalam pelayanan Pastoral Gereja Katholik, serta berbagai peminggiran perempuan yang terjadi selama ini. Paus membuat revolusi berpikir dan cara pandang, revolusi manajemen Pastoral dan liturgi, demi pelayanan dan pewartaan Kasih Yesus yang semakin menyeluruh dan bermartabat. Gereja bukan milik kaum lelaki, tetapi juga perempuan dan anak-anak.

Option to the Women and Children Rights

Pilihan terhadap Hak Perempuan dan Anak (Option to the women and Children Rights). Dari tindakan Paus Fransiskus membasuh kaki Nara pidana perempuan di Hari Raya Kamis Putih.

“Saya berpendapat dan mengapresiasi sebagai penegasan terhadap penegakkan Hak perempuan dalam Pastoral Gereja Katolik. Sebuah pembaharuan dan revolusi penghayatan Injil.

Perempuan itu bumi, perempuan itu rahim dan ibu, perempuan itu disini dan menyatu dengan hakekat manusia,” urai pria asal Maumere,Flores itu.

Paus Fransiskus Basu Kaki para pria pada malam kamis putih 2024 di Lembaga Tahanan di Roma-Italia (vatican news)

“Jika kita mau menegakkan hak asasi manusia, maka harus menjamin dan tegakkan hak asasi perempuan. Perempuan adalah tulang punggung dan citra keluarga, termasuk kekuatan Gereja Katholik. Bahkan partisipasi perempuan dalam kehidupan gereja jauh lebih tinggi dari laki-laki.” Ujarnya.

Lalu, jika kita mau menjamin masa depan suatu bangsa dan Gereja Katholik, maka harus ditegakkan dan dijamin hak asasi anak-anak. Mereka adalah kelanjutan Gereja semesta, apalagi dengan tantangan zaman digital dewasa ini.

“Saya mengucapkan Proficiat dan terimakasih kepada pesan profetis Paus yang reformis dan revolusioner untuk semakin menghayati nilai inilah Yesus Kristus, khusus dalam pelayanan Pastoral Gereja  Paus melayani dan mewartakan Kasih Yesus Kristus dengan spiritualitas Bunda Maria,” tutup Simply da Flores,Sabtu (30/3/2024). **

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *