banner 728x250
OPINI  

Bung Karno, Pancasila, dan Prabowo-Gibran

Patung Bung karni di Bawah Pohon Sukun di Ende,Flores, Cikal Bakal Lahirnya Pancasila
banner 120x600
banner 468x60

Oleh Peter Lewuk

SEBELUM Pemilu 2024, Prabowo Subianto pernah meminta kepada rakyat Indonesia agar mberi kesempatan kepadanya untuk “berkuasa”. Setelah terpilih menjadi presiden bersama wakilnya, Gibran Rakabuming Raka dalam pilpres 2024, beliau melontarkan pernyataan “keras” yang mengandung tafsir sindiran bernuansa “kuasa”. Yakni bahwa pihak-pihak yang tidak ingin diajak bekerja sama, jangan mengganggu. Cukup nonton saja dari pinggir jalan.

banner 325x300

 Demikian pula presiden terpilih Prabowo Subianto mengatakan bahwa Bung Karno adalah milik bangsa Indonesia  bukan milik pihak tertentu saja. Pernyataan ini secara implisit mengandung sindiran terhadap Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan yang adalah anak biologis maupun anak ideologis Bung Karno. Sebuah pernyataan yang seharusnya tidak perlu diucapkan karena tidak pernah ada klaim dari pihak PDI Perjuangan bahwa Bung Karno adalah milik eksklusif partai banteng moncong putih itu.

Kesan yang tertangkap dari pernyataan tersebut adalah bahwa belum de jure alias belum sah berkuasa karena belum dilantik dan diangkat sumpah saja, presiden terpilih Prabowo sudah mulai “unjuk kuasa” meski sebatas verbal atau omon-omon saja. Bagaimana kalau nanti sudah sah dilantik dan diangkat sumpah?     

Perlu dicamkan baik-baik bahwa dalam negara demokrasi, kekuasaan adalah mandat dan amanah “otoritatif” dari rakyat kepada presiden untuk “memimpin” rakyat, bangsa, dan negara. Sebaliknya kekuasaan itu tidak untuk dipergunakan secara “otoriter”, represif, dan militeristik. 

Bulan Bung Karno dan Pancasila

Bagi Indonesia, bulan Juni adalah bulan spesial yang juga lazim disebut “bulan Bung Karno” dan “bulan Pancasila”. Sejarah mencatat bahwa Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 dan wafat pada 21 Juni 1970.  Demikian pula, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno secara sangat memukau dan cerdas membeberkan pemikiran-pemikirannya yang brilian tentang filosofische grondslag negara Indonesia merdeka.            Pidato yang disambut dengan tepuk tangan riuh silih berganti itu diucapkan di hadapan  para peserta Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Bung Karno menamakan dasar filsafat negara Indonesia merdeka itu adalah Pancasila. Oleh karenanya tanggal 1 Juni diperingati dan dirayakan sebagai hari lahirnya Pancasila dan hari libur nasional.            Sungguh Bung Karno adalah salah seorang filsuf besar dunia abad kedua puluh. Buktinya di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tanggal 30 September 1960 Bung Karno memberikan pidato bertajuk “Membangun Tata Dunia Baru” atau “To Build The World Anew”.

Bung Karno juga  dengan  semangat memperkenalkan Pancasila kepada para pemimpin dunia dan meminta agar Pancasila dijadikan piagam PBB. Mengapa?Karena Pancasila adalah filsafat yang mengandung nilai-nilai universal. yang dapat diterapkan oleh negara dan bangsa mana pun di muka bumi ini. Juga Pancasila dapat menjadi ideologi global.

Meskipun demikian, seraya tetap menghormati Bung Karno, ada kritik terhadap sang filsuf yang juga ideolog itu. Yakni adanya inkonsistensi ideologis pada diri Bung Karno terhadap Pancasila. Apakah itu? Bung Karno melakukan eksperimen ideologis yang disebut “Nasakom”, yakni menyatukan “nasionalisme, agama dan komunisme”. Eksperimen ideologis itu   akhirnya kontraproduktif, baik bagi Pancasila dan negara-bangsa Indonesia maupun bagi diri Bung Karno sendiri. Terlepas dari eksperimen ideologis itu, Bung Karno tetap dikenang sebagai filsuf besar dan proklamator kemerdekaan Indonesia.

Pancasila dan Prabowo-Gibran

Sudah sangat tidak relevan dan buang jauh-jauh pikiran picik tentang Bung Karno itu milik siapa.Hal terpenting adalah menghayati dan mengamalkan Pancasila dan ajaran-ajaran Bung Karno.Untuk itu sebagai pemimpin baru Indonesia lima tahun ke depan, ada beberapa catatan bagi Prabowo-Gibran dalam konteks Pancasila dan Bung Karno, baik secara nasional maupun global.Secara nasional, pertama-tama adalah memperkuat komitmen akan konsistensi konstitusional-idelologis-personal dalam diri Prabowo-Gibran terhadap Pancasila dan UUD 1945 sebagai basis yang kokoh dan “bintang penuntun” bagi keduanya dalam memimpin.

Tanpa konsistensi dan komitmen kuat dari pemimpin puncak negeri ini terhadap Pancasila dan UUD 1945, maka yang terjadi adalah seperti contoh paling buruk dan konyol yang kita alami selama pemilu 2024 yang tidak perlu diuraikan lagi. Keteladanan dalam hal komitmen dan konsistensi ideologis terhadap Pancasila  dan konsistenisi konstitusional terhadap UUD 1945 dalam diri presiden dan wakil presiden adalah hal yang sangat penting untuk diteladankan kepada para pejabat pemerintah mulai dari pusat hingga daerah. Juga diteladankan kepada publik.

Contoh konkret implikasi komitmen terhadap Pancasila adalah: Ketika menyusun kabinet, maka kriteria yang digunakan bukan semata-mata kepentingan pragmatisme, terutama para elite koalisi partai dan para “intelektual tukang” serta plutokrat/fulustokrat (penguasa uang), yang telah bekerja keras alias berkeringat memenangkan Prabowo-Gibran dalam pilpres.

Tetapi penting juga Pancasila harus menjadi kriteria penentuan para calon menteri atau “Camen”.  Artinya yang ditekankan adalah rekam jejak komitmen ideologis-konstitusional dan karakter kepribadian berintegritas Pancasilais dari sang Camen, selain tentu saja ahli dan profesional di bidang disiplin yang dimilikinya. Ini bukan usulan yang mengada-ada, melainkan sebuah imperatif kategoris filosofis-politis.

Selain Pancasila sebagai kriteria Camen, satu lagi catatan penting. Yakni komitmen Prabowo-Gibran bersama kabinet mereka untuk mengamalkan ajaran Bung Karno tentang Trisakti: Berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Ajaran ini tetap aktual dan relevan sampai kapan pun untuk semakin direalisasikan.

Prabowo Subianto -Gibran Rakabuming Raka (istimewa)

Selanjutnya, secara global apa catatan untuk Prabowo-Gibran? Seperti diketahui, kondisi geopolitik dan keamanan global dewasa ini dalam krisis besar. Perang dan perlombaan produksi senjata pemusnah terus ditingkatkan. Krisis iklim global terjadi akibat ulah manusia yang melanggar “hak asasi bumi” dan alam lingkungan hidupnya. Demikian pula krisis ekonomi dan bisnis serta perdagangan. Semua itu telah, sedang, dan akan tetap berdampak bagi Indonesia.

Dalam konteks tantangan global itu saya berharap Prabowo atau Gibran tampil mengulang prestasi Bung Karno di tingkat global. Apa partisipasi Indonesia dalam solusi krisis global itu?

Menurut saya krisis global itu terjadi karena krisis moral-etik dan krisis religius serta  krisis rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, sekaligus krisis idelogis yang diproduksi oleh para pemimpin dunia yang berwatak predatorik-setanik.

Oleh karena itu, saya berharap nanti setelah resmi memimpin Indonesia lima tahun ke depan, Prabowo atau Gibran tampil berpidato di forum PBB. Meyakinkan para pemimpin dunia bahwa Pancasila adalah solusi krisis global karena nilai-nilainya bisa diterapkan secara universal. Disertai dengan strategi diplomasi tingkat tinggi yang cerdas, berintegritas, dan berdampak nyata. Lagi-lagi ini juga bukan usulan yang mengada-ada, melainkan imperatif politik diplomasi Indonesia.

Sejauh pengetahuan saya, ide besar Bung Karno itu, belum dipopulerkan secara serius kepada publik global baik oleh para pemimpin Indonesia paska Bung Karno maupun oleh para filsuf dan ideolog Indonesia, terutama membuat Pancasila menjadi filsafat universal dan ideologi global.

Pancasila dan Trisakti Bung Karno dibikin kalah dan tidak berdaya oleh para pemimpin Indonesia sendiri menghadapi gempuran dua kubu idelogi predatorik global yaitu “Kapitalisme Kuning” alias “The Yellow Capitalism” yang diusung China dan Kapitalisme Neoliberal yang diusung Amerika cs.

Mampukah Pancasila menjadi solusi krisis global? Pertanyaan yang menantang Prabowo-Gibran dan para elite politik, diplomat serta para filsuf dan ideolog Indonesia.Itulah dua catatan singkat saya (nasional dan global) untuk Prabowo-Gibran yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Semoga bermanfaat.***

*) Penulis adalah cendekiawan masyarakat adat matriarkat Tana Ai, Flores, NTT.

 

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *