banner 728x250
OPINI  

BABI HARAM DALAM ISLAM

Ismail Aso
banner 120x600
banner 468x60

Oleh. : Ismail Asso

ADA yang bertanya ke saya kenapa tidak urus agama sedangkan saya masuk MRP utusan agama, bukan adat budaya Papua.

banner 325x300

Jujur saya menghargai nilai kebaikan agama, tapi bicara adat budaya berarti kita bicara diri sendiri karena adat tak turun dari langit tapi lahir dari diri Kita, sebagaimana para ahli antropologi misal Koenjraningrat menyebut bahwa unsur adat budaya ada tujuh (7) yakni:

1. Sistem religi dan upacara keagamaan. 2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan 3.Sistem pengetahuan. 4. Bahasa5. Kesenian. 6. Sistem mata pencaharian hidup .7. Sistem teknologi dan peralatan

Jadi karena sifat dasar adat budaya tak statis tapi terus berkembang, tentu saja sesuai dinamika perubahan sosial dan waktu, tentu, di Wamena Babi bukan satu-satunya hewan, bisa diganti dengan Domba atau Kancil atau Sapi dll.

Babi haram dalam Agama Islam tapi saya disini bukan bicara (bahas) Agama tapi saya bicara Adat budaya Papua yang itu berarti bicara diri kita sendiri sebagai manusia Papua yang ber-Adat Budaya Papua.

Ada dampak kita sebagai masyarakat pendukung Adat Budaya “Honai Kaneke”, tidak serta-merta tenggelam dalam kelainan yang lain dari diri kita sendiri, kita sudah atau proses menuju dilainkan, kita bicara dan berfikir tak lagi sebagai kelanjutan masa lalu diri kita tapi sebagai masa depan sebagai kontruksi hegemoni nilai asing diluar diri kita sebagai manusia Papua.

Ambil contoh Agama misalnya, semua Agama lahir, tumbuh dan berkembang kesuluruh dunia, sejatinya milik Adat Budaya Semit diantara Kawasan seputar: Ethiopia, Somalia, Yaman, Yordania, Saudi Arabia, Israel-Yahudi, Palestina, Suriah, Mesir, Sudan dan Kepulauan Sisilia, Persia (Iran), Turki dan seputar kawasan Timur Tengah itu.

Adat Budaya mereka sendiri sebenaranya sebagai hasil kreatifitas daya pikir dan kepercayaan tapi disebarkan atau tersebar kedunia bangsa lain (seperti kita di Papua) karena mereka punya sistem penulisan (criptuaralisme), sehingga Adat Budaya mereka bisa menyebar ke Barat jadi orang Eropa sebelumnya “kafir” bisa jadi Kristen karena menerima, menganut sistem Adat Budaya Timur (Yesus Kristus atau Nabi Isa Al Masih bukan orng Eropa tapi orang Timur).

Hari ini seluruh Eropa sebagai kawasan bekas kejayaan superioritas agama Kristen karena pengaruh hebat Timur Adat budaya Semit, seakan agama dan ajaran Kristen milik Eropa padahal alam pikiran Eropa dikuasai oleh Adat Budaya Timur kawasan dimana orang sebut Adat Budaya Semit (Afro-Asia) karena kemampuan cripturalisme (budaya mencatat) Injil, Zabur, Al AQur’an ditulis, ditafsirkan (interpretasi) jutaan buku ditulis setiap hari membahas cerita dan sistem kepercayaan Semit Timur Tengah karana sistem Adat Budaya mereka kita sebut sebagai Agama sejatinya sistem kepercayaan kawasan Timur Tengah dari lingkup Adat Budaya Semit.

Konsepsi soal Sorga-Neraka misalnya di gambarkan Oase (ditengah padang pasir ada air susu mengalir, ada bidadari dan semacamanya) gambaran ini khas Wilayah tandus antara Afrika-Asia Barat. Jadi itu gambaran konsepsi Sorga bagi penduduk kawasan kering padang pasir Wilayah Timur Tengah. Jika konsepsi Sorga -Neraka (kalau tempat itu benar ada, dimana?), dalam pikiran Orang Papua sebagai Wilayah tropis (subur) mungkin gambarannya berbeda dari pikiran orang disana, dan jika disini dalam penggambarannya berbeda sesuai lingkungan wilayah tropis Papua bukan?

Jadi persoalan Babi bukan prinsip (pokok) tapi sebagai perangkat (alat), berlakunya sistem kepercayaan Adat Budaya Papua. Jadi kesimpulannya Babi bisa diganti dengan Sapi atau Uang (saat ini Uang diatas segala), tapi prinsip dasar Adat Budaya Papua wajib dipertahankan karena itu yang prinsip (pokok).

Seperti disampaikan diatas bahwa yang namanya sistem Adat Budaya sebagai hasil kreatifitas manusia hidup dimana senantiasa selalu dan dimana-mana terus berubah, berkembang, Budaya tidaklah statis tapi terus berubah seiring waktu dan perkembangan zaman dan terus berubah dari waktu ke waktu dari satu genrasi ke genarasi manusia berikutnya selama manusia ada lahir dan mati terus begitu.

Berbeda dengan kita, sistem Adat Budaya kita tak mengenal budaya menulis, mencatat dan juga seluruh suku bangsa didunia, yang tak memiliki budaya sistem menulis atau tak memiliki kebiasaan tulis-menulis, sama halnya kita Papua.

Menjaga sistem kepercayaan dan Adat Budaya melalui sistem lisan (secara oral) dari mulut ke mulut secara turun-temurun dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Dan sistem kepercayaan seperti itu bagi kita Papua Pegunungan terus berlangsung selama menempati kawasan Wilayah Papua Pegunungan khususnya Lembah Balim terus dijaga dari generasi ke genarasi sudah berlangsung ribuan bahkan jutaan tahun lamanya hingga kedepan.

Seperti diakui oleh dunia ilmu pengetahuan antropogi melalui riset (penelitian) bahwa kita manusia Papua adalah manusia pertama dan paling pertama dimuka bumi, (lihat di Google temukan soal ini), sejak out of Africa (Ethiopia).

Oleh sebab itu dapat dilihat kepemilikan Tanah Adat wilayah sacral di Lembah sekitar Sungai Balim dari arah sebelah Timur (kita semua muncul melewati sungai Balim melewati jembatan darat sebelum Es Geisler mencair, menjadi terpisah jadi Pulau- Pulau di Kepulauan Nusantara, kita lewati jembatan Asia, menuju Pasifik, dari arah pesisir pantai melalui Asmat naik ke Gunung, ini perkiraan antropologi), maka, sistem kepemilikan dan Tanah Adat sacral Sungai Baliem sebelah Utara, memanjang dari bawah keatas mengikuti aliran sungai Baliem. Hal ini berbeda dengan kaki sebelah Selatan Kali Baliem, sistem kepemilikan Tanah dari Sungai Baliem sampai ke Gunung.

Jadi kembali ke soal bahwa Adat Budaya urgen (sangat penting), dipertahankan dibudidayakan dan dikembangkan agar orang Papua tak kehilangan diri, tak tahu diri siapa dirinya, tapi tetap menjadi diri sendiri dan percaya diri bahwa dia tahu dirinya, tahu diri.

* Penulis adalah  Peminat Adat Budaya, Anggota MRP PP, Pokja Agama, Unsur Agama Islam

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *