banner 728x250
OPINI  

Agama Melenyapkan Kepercayaan Asli Papua

banner 120x600
banner 468x60

Oleh : Ismail Asso

Agama Pendatang Baru

banner 325x300

AGAMA apapun tidak mungkin (muspra) karena itu aneh, malah keliru dan memang tidak pantas karenanya, menganggap paling berhak atas Tanah Papua. Semua agama manapun tidak boleh dibiarkan merampas kedaulatan hak-hak kebebasan orang Asli Papua.

Manusia Papua lebih dulu ada ribuan tahun di Tanah Papua sebelum agama sebagai bagian dari kebudayaan asing diciptakan di Timur Tengah (Arab-Israel). Agama dan Pemerintah (baca: Negara) baru hadir datang mencari manusia Papua.

Karena itu Lembaga Agama apapun dan manapun tak pantas cliem apalagi boleh berhak atas Tanah Papua, karena janggal memang tak pantas cliem begitu.

Sepenuhnya agama tak berkuasa atau tidak boleh dianggap berkuasa atau mengangap dirinya paling berhak atas Tanah diatas manusia Papua itu sendiri.

Lucu dan sedikit tak masuk akal kalau bukan suatu kebodohan pemuka agama Papua seolah-olah seakan ingin dianggap menguasai atas kebebasan kedaulatan kepercayaan rakyat Papua.

Lembaga Agama manapun tidak mungkin merasa boleh paling berhak atas Papua apalagi menganggap menguasai kepercayaan penduduk Asli Papua terhadap barang asing dan baru bernama agama.

Orang Papua harus sadar bahwa atas nama Lembaga Agama apapun dan dimanapun selama manusia Papua ada, sesama Orang Papua tak pantas menganggap lembaganya yang paling berhak atas Tanah Papua.

Semua agama pendatang baru di Tanah Pupua. Apalagi lembaga (organisasi) baru dibuat untuk memasarkan agama yang itu dibawa orang asing dipasarkan di Papua. Dan itu semua baru setelah Manusia Papua sudah hidup ribuan tahun diatas tanahnya.

Kejatahan Agama

Betapa tidak sedikit, akibat kefanatikan kepemelukan agama, peperangan (pembunuhan, pemerkosaan, penghinaan harkat-martabat manusia) menyebabkan ribuan nyawa manusia jadi korban sia-sia.

Atas nama kebenaran agama pembantai an nyawa manusia seakan tak berdosa malah dianggap pahlawan. Hal ini telah menjadi banyak bukti terjadi dimuka bumi.

Andaikan batu gunung, bukit, tanah, pohon, hewan dapat bicara, ia menjadi saksi, bercerita bahwa; kefanatikan kepemelukan agama, ribuan nyawa anak manusia menjadi korban sia-sia kebiadaban.

Agama penyebab utama banyak manusia dibunuh. Agama menyebabkan telah banyak korban manusia menjadi mati sia-sia.

Demikianlah contoh di Ambon, agar tidak jauh menyebut Bosnia -Herzegovina atau Perang Salib pada masa silam berjilid-jilid itu.

Agama Itu Baik?

Demikian baikkah agama sesungguh nya? Pasti ada yang membela agama, dengan mengatakan bahwa agama itu baik dan mengajarkan kebaikan, yang salah bukan agama tapi manusia sebagai pemeluk agamanya.

Herankah kita oleh ulah ajaran agama, kaykinan agama, fanatik buta keyakinan Agama, ratusan bahkan ribuan angka yang diberikan oleh Dewan Gereja Indonesia.

Konon pembakaran Gereja oleh kaum pemeluk fanatik Islam yang melakukan pembakaran, menjelang Hari Raya Natal dan Paskah.

Bahkan para Pendetanya mendapatkan nasib sial, yang terjadi sejak zaman Soeharto berkuasa bukan?

Hal demikian di Indonesia (negara yang membanggakan diri sebagai negara demokratis), sampai dengan pemerintahan yang berkuasa, perlin dungan terhadap rakyat pemeluk agama dianggap paling buruk.

Perlindungan pemeluk agama maenstream sangat kurang, menjadi korban sia-sia, kepemelukan agama fanatik buta menjadi contoh keburukan agama.

Kalau begitu mengapa kita percaya agama sebagai baik? Hanya agama sajakah yang membawa kita pada kebaikan,harapan dan tujuan hidup, termasuk Papua Damai?Tidak !

Adat BUDAYA PAPUA (Honai Kaneke) betapapun palsu dan rendah oleh agama dapat membawa kebaikan, tujuan dan harapan hidup, asalkan kita tidak membakar hangus Adat Haonai Kaneke kita.

Kita dapat berpedoman sebagai penuntun arah, tujuan, alamat, signal, menuju pada obyek kepercayaan untuk mencapai hidup bahagia, hidup ada magna, hidup ada arti, akhirnya mengarahkan hidup ada makna bila tujuan hidup adalah kebahagian maka Honai Kaneke dapat membawa kita hidup ada makna kebahagian dunia.

Agama sesungguhnya sistem kepercaya an pada obyek transendental, diluar dari kenyataan disini.

Agama adalah kepercayaan pada hal-hal yang bersifat eskatologi (Sorga, Neraka, Tuhan, Malaikat, Setan dan juga Iblis) yang tidak dapat dirasionalisasi, dibuktikan oleh siapapun manusia didunia.

Kita dianjurkan oleh agama mempercayai begitu saja, tanpa pernah merasa benar, atau sudah merasakan bagaimana sorga, atau panasnya api neraka itu.

Karena itu agama sesungguhnya juga adalah idealisme, idealisme yang memproses terus untuk memberi janji, janji hidup manis sorga dengan para bidadari dan ketakutan akan api neraka, tanpa pernah kita tahu persis benar ada atau tidak tempat itu. Bahkan dimana letak tempat-tempat itu beserta Sang Pembuat dan Pemilik Tempat itu (Tuhan).

Siapa saja manusia tidak tahu, kecuali kembali kepada mitos (percaya). Agama adalah suatu sistem kepercayaan tanpa pernah kita mengalami benar-benar kebenaran ceritera semua itu.

Dogma kepercayaan agama terus ditanamkan (indogtrinasi), oleh ulama, pendeta dan pastor dari sejak kita belum lahir sampai kita mati, ceritera (mitos) terus akan begitu bukan?

*)Ustadz Ismail Asso adalah Pengamat Agamat dan Budaya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *